Memahami dan mengimani bahwa Tuhan adalah Sang Maha Baik, tidak melepaskan fakta lain dari jati diri Allah yakni keadilan-Nya yang turut memerintah semesta. Maka dibalik segala belas kasihan Allah, terkadang muncul pula ketegasan Allah, bahkan terkesan seperti “hukuman” dari-Nya. Padahal semua itu dilakukan-Nya dalam rangka keadilan-Nya dan proses untuk mendidik umat-Nya.
Mereka menjadi contoh akan sebuah relasi yang dinamis dengan Allah berdasarkan perjanjian yang telah ditegakkan dengan para Bapa leluhur Israel. Israel diajak untuk berbuah manis di dalam Tuhan, menjadi teladan dan berkat bagi bangsa-bangsa lain. Namun seringkali mereka mengandalkan pemikiran sendiri, melupakan Allah, dan malah meminta bantuan kepada bangsa lain yang dianggap mampu melepaskan Israel dari krisis. Akibatnya, Allah sendiri yang turun tangan. Rujukan kepada Lewiatan dan hewan-hewan air raksasa lainnya di ayat 1 merupakan metafora atas bangsa-bangsa besar di sekitar Yehuda yang mengalami penghukuman dari Allah. Mereka mengalami didikan Allah.
Israel juga tidak lepas dari didikan Allah. Apabila mereka hidup dalam relasi yang erat dan dekat dengan Allah, umat Tuhan menjadi laksana kebun anggur yang semarak, lebat, dan buahnya manis. Israel menjadi teladan dan berkat bagi bangsa-bangsa lain. Namun apabila Israel menjauh dari Allah, maka Tuhan tidak segan-segan mendatangkan didikan-Nya. Meskipun demikian, didikan itu tidak untuk membinasakan Israel melainkan untuk mendewasakan mereka dalam iman. Oleh sebab itu, pada akhirnya Allah akan mengumpulkan kembali bangsa Israel yang telah tercerai-berai.
Maka marilah kita dengan sepenuh hati memelihara dan membangun komitmen untuk senantiasa berelasi dengan Allah. Mengandalkan-Nya saja dalam seluruh perjalanan kehidupan kita, lebih daripada mengandalkan kekuatan diri kita sendiri ataupun orang lain. Lihatlah betapa Allah yang penuh kasih itu senantiasa berkenan untuk hadir dan mendidik anak-anak-Nya. Hiduplah dalam penghayatan yang benar akan kasih dan didikan-Nya. Jalanilah hidup ini dalam hikmat-Nya.
























