Kebijaksanaan hidup adalah sesuatu yang menjadi dambaan banyak orang. Namun terkadang kita menyadari bahwa kebijaksanaan tersebut bukan sesuatu yang mudah dicapai dan menetap pada diri seseorang. Seringkali kita melihat orang-orang yang dianggap bijaksana justru terperangkap dalam berbagai persoalan yang dihasilkan dari keputusannya. Bahkan orang yang kita pandang bijaksana dan dapat memberi nasehat justru tidak dapat memberikan solusi atas masalah yang sedang kita hadapi. Betapa kompleksnya pencarian kita akan hikmat serta kebijaksanaan hidup.
Rupanya kegelisahan tersebut juga dihadapi oleh sang pengkhotbah. Semakin ia terjun mendalam mencari hikmat justru banyak pertentangan yang ia temui. Di satu pihak ia memeriksa dengan hikmat segala sesuatu, di pihak lain pencarian dengan hikmat itu tidak menghasilkan hikmat, atau menghasilkan kesimpulan bahwa hikmat itu jauh. Hal ini menunjukkan keterbatasannya dalam menilai dan menerjemahkan realitas yang ada.
Namun setidaknya pencarian akan hikmat tersebut meskipun membingungkan, tetap membuatnya dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Dalam bahasa yang dipakai pengkhotbah, ia menjelaskan sebagai sesuatu yang lain, yang lebih kuat dari maut dan membelenggu manusia, bahkan menariknya pada kehancuran (ay. 26). Namun ada jalan keluarnya karena mereka yang disenangi Allah terhindar darinya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya. Dalam kitab pengkhotbah mereka yang disenangi Allah selalu terkait erat dengan orang-orang yang hidup berdasarkan hikmat Tuhan. Jadi meskipun pencarian hikmat itu melelahkan dan tiada berujung, tetapi tetap menghadirkan dampak yang baik dalam kehidupan.
Maka marilah berjuang untuk terus hidup dalam hikmat dan kehendak-Nya. Meskipun terkadang terasa sulit dan penuh dengan jalan terjal kegagalan, setidaknya melalui pencarian tersebut kita dimampukan untuk dapat membedakan mana yang benar dan salah. Bukankah itu hal yang terpenting dalam hidup. Jika menjadi orang yang bijaksana dan berhikmat adalah sesuatu yang begitu jauh, tetapi dalam perjalanannya kita dapat memiliki kepekaan untuk selalu melihat tanda-tanda penyertaan-Nya.

























