Relasi antara gereja/agama dengan pemerintah selalu menjadi percakapan yang menarik di abad ke-21 ini. Sebagian besar negara sepakat bahwa harus ada batas yang jelas antara agama dan negara, sehingga keduanya menghormati serta berdaulat dalam wilayahnya masing-masing. Pemisahan tersebut dilatarbelakangi pengalaman di masa lampau dimana terjadi percampuran tidak sehat antara keduanya sehingga menghadirkan kuasa yang hampir absolut. Meskipun demikian kecanggungan relasi dan respons terhadap pemerintah/negara tetap menjadi bagian pergumulan iman kita dewasa ini. Pertanyaan yang mencuat seputar bagaimanakah bersikap dan merespons pemerintah dengan segala kebijakannya? Apakah harus mendukung dengan membabi buta atau berada dalam kadar dukungan yang secukupnya sehingga selalu memberi ruang terhadap kritik atas kebijakan pemerintah?
Rupanya kegelisahan ini telah ditangkap dengan baik oleh bacaan kita kali ini. Pengkhotbah berkata bahwa respons terhadap Raja merupakan salah satu tanda atau buah dari hikmat seseorang. Perlu dipahami bahwa Raja pada masa itu adalah sosok pemimpin yang memiliki kekuasaan mutlak. Ia dipandang sebagai orang pilihan Allah yang penuh hikmat, sehingga rakyat biasa tidak bisa bersikap semaunya di hadapan raja. Hal itu terlihat dalam nasihat pengkhotbah di pasal ini yakni agar tidak meninggalkan raja ketika ia menghadirkan titahnya. Alasannya adalah raja bisa melakukan apa saja yang dikehendakinya dan perkataannya berkuasa. Dampaknya, orang yang patuh akan terhindar dari marabahaya.
Hikmat juga muncul dari tindakan yang tepat dalam merespons bahkan mengoreksi raja. Harus ada cara dan waktu yang tepat. Raja tetaplah manusia biasa. Ia memiliki keterbatasan sehingga banyak hal di luar jangkauannya termasuk masa depan. Oleh karena itulah, ia butuh diingatkan bahwa ada pengadilan Allah dari setiap tindakannya. Dengan demikian yang berdaulat penuh atas kehidupan tetaplah Allah semata dan raja atau pemimpin negara harus berjalan beriringan dengan kedaulatan Allah tersebut.
Dari sini kita dapat belajar bahwa meskipun penghormatan atas otoritas negara atau penguasa tetap perlu dipertahankan, tetapi selalu ada ruang untuk memberikan kritik serta masukan yang membangun kepada penguasa. Ketertundukan kita bukanlah ketertundukan buta kepada pemerintah. Melainkan rasa hormat berdasarkan wewenang yang diperolehnya dan kepercayaan bahwa pemerintah mengerjakan apa yang Allah kehendaki. Namun ketaatan mutlak kita hanyalah kepada Allah sehingga segala sesuatu harus dilihat dalam kacamata pemerintahan-Nya.
























