Satu realitas kejam yang seringkali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah banyak orang-orang yang berbuat jahat, curang, dan licik, hidupnya justru baik-baik saja bahkan terlihat begitu enak dan nyaman. Sementara mereka yang berjuang mati-matian untuk hidup jujur dan benar justru harus mengalami berbagai ketidaknyamanan dalam hidup. Biasanya menanggapi situasi tersebut kita hanya dapat meratap dengan penuh keprihatinan seraya bertanya akankah keadilan Allah segera dinyatakan.
Pertanyaan tersebut juga menjadi bagian dari perenungan sang pengkhotbah. Ia melihat bahwa kekuasaan seringkali disalahgunakan. Orang yang kuat menindas yang lemah. Seakan-akan pertunjukkan kejahatan itu belum cukup, ia menambahkan lagi pengamatannya. Orang fasik seringkali dimakamkan dengan terhormat dan dikenang dengan baik. Sementara kejahatan yang dilakukannya tidak segera dihukum.
Pada sisi yang lain, pengkhotbah juga mengamati betapa orang benar mengalami kesulitan serta ketidakadilan dalam hidupnya. Jadi ada orang jahat yang menikmati keberhasilan, sementara orang baik bergumul dengan penderitaan. Bagaimana menghadapi realitas tersebut? Pertama-tama pengkhotbah mengajak pembacanya untuk menyadari keterbatasan hikmat manusia termasuk dalam menilai serta menafsirkan realitas. Kita tidak mampu memahami segala sesuatu secara utuh semua kenyataan hidup yang ada. Maka jalanilah hidup pemberian Allah sebagaimana adanya karena Allah tetap bekerja meskipun kita tidak dapat sepenuhnya memahami cara kerja Allah. Percayalah akan Allah yang menjadi sumber keadilan dan kebaikan sejati. Apa yang kita lihat dari “kesuksesan” orang-orang fasik menutupi kejahatannya, merupakan keberhasilan sementara yang tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebenaran kekal yang dicapai melalui ketertundukan pada hikmat-Nya. Semua yang diperoleh orang fasik dengan segala kelicikan dan kejahatannya tidak akan bertahan lama.
Maka marilah kita menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran akan pilihan-pilihan hidup serta beragam konsekuensinya di masa mendatang. Pilihan instan dan mudah, tetapi melanggar perintah-Nya seringkali memang sangat menarik. Terlebih banyak orang berada pada jalan itu. Namun ingatlah hidup ini adalah fana, kesenangan yang diperoleh dari kecurangan tersebut juga sementara. Arahkanlah hidup kepada perwujudan hikmat serta kehendak-Nya senantiasa yang mengarahkan kita kepada kekekalan.
























