Sepanjang sejarah peradaban, manusia sebagai makhluk yang berpikir, terus mengolah pikirannya bahkan hingga sampai pada titik yang esensial yakni mempertanyakan keberadaannya sendiri di dunia ini. Eksistensi atau keberadaan manusia itulah pokok percakapan para pemikir di sepanjang zaman. Para pemikir tersebut biasanya memulai refleksinya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti; “Apa tujuan manusia yang sesungguhnya?”, “Apakah makna kehidupan ditentukan sebelum kita hadir di dunia atau ditemukan dalam proses mengada di dunia?”, “Apa tujuan dari kehidupan jika semuanya berakhir dengan kematian?”, dan aneka pertanyaan lainnya. Namun pada intinya ialah manusia ingin agar keberadaannya di dunia betul-betul bermakna dan ia dapat menjalani kehidupan dalam kelegaan serta kebebasan.
Pengkhotbah merenungkan persoalan filosofis yang serupa dalam bacaan kita kali ini. Dalam pengamatannya ia melihat bahwa orang benar, orang fasik, orang baik, orang jahat, orang tahir dan najis sesungguhnya akhir nasibnya serupa yakni mengalami kematian (ay. 2-3). Meskipun demikian sudah menjadi hal yang jelas bahwa kehidupan lebih berharga dari kematian. Maka nasihat dari sang pengkhotbah sangatlah realistis yakni nikmatilah kehidupan. Nikmati bersama dengan orang-orang terkasih dan dalam segala berkat juga karunia yang telah Allah hadirkan dalam kehidupan setiap orang (ay.9). Kerjakanlah dengan sebaik-baiknya apa yang dapat diupayakan dalam kehidupan seperti pekerjaan, perimbangan, pengetahuan, dan hikmat karena di dunia orang mati semuanya itu tidak berarti lagi (ay.10).
Sang pengkhotbah seolah-olah ingin membawa kita untuk menghargai dan menikmati kehidupan justru dengan mengingat kematian. Kematian tidak dihindari dalam refleksi filosofis pengkhotbah, justru menjadi pemantik diskusi dan penghayatan kehidupan yang otentik. Makna kehidupan lahir ketika seseorang menghargai kehidupannya dan menyambut kematian dengan sebaik-baiknya. Dengan mengingat akhir dari segala sesuatu yakni kematian, seseorang memperoleh kesadaran untuk menikmati hidup dan menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya.

























