Kita hidup di dunia yang memuja “panggung”. Siapa yang punya pengaruh besar, dialah yang didengar. Siapa yang memiliki jabatan tinggi, dialah yang diikuti. Dalam banyak hal, suara yang paling berisik sering dianggap paling benar. Namun Pengkhotbah menghadirkan sebuah kisah yang sederhana, bahkan nyaris terlupakan, yaitu tentang sebuah kota kecil yang dikepung raja besar, tetapi justru diselamatkan oleh siasat seorang rakyat jelata, seorang miskin yang berhikmat.
Kisah ini tidak dijelaskan secara rinci, seolah-olah memang tidak penting siapa tokohnya atau kapan peristiwanya terjadi. Yang penting adalah hikmahnya. Dalam situasi yang tampak mustahil, sebuah kota kecil dengan sedikit penduduk menghadapi kekuatan besar, tapi disana hikmat menjadi penentu. Bukan kekuatan militer, bukan kebesaran nama, tetapi kebijaksanaan yang lahir dari kejernihan berpikir. Namun ironinya, orang yang memiliki hikmat itu adalah seorang miskin. Dan seperti sering terjadi, suaranya tidak dianggap. Ia tidak punya kuasa, tidak punya pengaruh, dan karena itu ia mudah diabaikan. Pengkhotbah dengan jujur menunjukkan kenyataan ini: hikmat memang lebih baik daripada kekuatan, tetapi hikmat yang datang dari orang kecil sering kali tidak didengar.
Bukankah ini juga gambaran dunia kita? Kita lebih mudah percaya pada mereka yang punya nama besar daripada pada suara sederhana yang mungkin justru benar. Kita sering menilai bukan dari isi perkataan, tetapi dari siapa yang berbicara. Bahkan dalam kehidupan bergereja, suara yang lemah bisa tenggelam oleh mereka yang lebih berpengaruh. Padahal, Pengkhotbah mengingatkan bahwa perkataan yang tenang dari orang berhikmat lebih berharga daripada teriakan penguasa yang bodoh. Hikmat tidak selalu datang dengan suara nyaring. Ia sering hadir dalam kesederhanaan, ketenangan, bahkan dari mereka yang tidak diperhitungkan.
Dan lebih jauh lagi, satu kesalahan kecil dapat merusak banyak hal yang baik. Ketika kesombongan membuat kita menutup telinga, ketika gengsi membuat kita menolak mendengar, akibatnya bisa fatal. Kehidupan yang rapuh ini dapat runtuh hanya karena kita mengabaikan hikmat yang sebenarnya ada di dekat kita.
Sahabat Alkitab, hari ini kita diingatkan kembali senantiasa hidup dalam kerendahan hati. Belajar mendengar, bukan hanya dari mereka yang ‘besar’, tetapi juga dari mereka yang sederhana. Jangan cepat menilai berdasarkan siapa yang berbicara, tetapi perhatikan apa yang disampaikan. Sebab bisa jadi, di tengah kebisingan dunia, suara yang paling menyelamatkan justru datang dari “sang jelata” yang berhikmat.

























