Konon katanya orang bijak pernah berkata bahwa kejahatan ada karena orang-orang baik memilih diam. Jika direfleksikan dengan seksama, bukankah hal tersebut seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Dalam situasi zaman yang tidak mudah, orang-orang memilih untuk mengamankan dirinya sendiri. Tidak salah memang, bahkan sangatlah logis. Namun jika pilihan logis tersebut sampai-sampai mengorbankan teriakan minta tolong dari tetangga serta mengabaikan kejahatan atau ketidak adilan yang terjadi di depan mata kita, bukankah kita patut mempertanyakannya kembali.
Bacaan kita kali ini dibuka dengan pernyataan yang sangat menohok, “Janganlah menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” Amsal 3:27-28 tidak bicara tentang mereka yang pada dasarnya fasik dan jahat, melainkan ia menyentil orang-orang baik yang memilih diam dan menunda pertolongannya. Sang Hikmat melanjutkan nasehat yang jujur sekaligus menyoroti fenomena yang sering dihadapi manusia. Keresahan ketika melihat orang jahat dan lalim justru mendapatkan yang baik di dunia ini. Dengan tegas ia berkata agar tidak iri hati terhadap mereka yang lalim serta jangan tergoda memilih jalannnya. Meskipun hidup mereka terlihat enak dan nyaman, tetapi mereka adalah suatu kejijikan bagi Tuhan. Ekspresi yang sangat keras diungkapkan dalam bacaan kita. Pada akhirnya kita diperintahkan untuk memilih antara dua jalan yakni jalan kebijaksanaan yang mewujud pada kebaikan serta kehormatan atau kebodohan yang menjerumuskan pada kelaliman serta kejahatan.
Sahabat Alkitab, marilah kita hidup dengan bijaksana yang ditunjukkan melalui sikap serta respons yang tepat terhadap orang lain. Berhikmat bukan hanya hidup dengan pengetahuan tentang apa yang baik melainkan juga hidup yang diarahkan kepada perwujudan kebajikan di sehari-hari. Maka tunduklah dalam hikmat dan kebijaksanaan-Nya. Bantulah orang-orang yang datang kepada kita untuk meminta bantuan. Hiduplah dalam kebaikan kepada sesama di hidup sehari-hari.
























