Apakah nasihat dari orangtua yang paling anda ingat ? Mungkin sebagian kita akan dapat menjawabnya dengan cepat, sementara lainnya akan mencoba untuk mengingatnya dengan mata berkaca-kaca karena mereka telah tiada. Namun yang kita dapat sepakati bersama adalah setiap orang tua seringkali mencurahkan kasihnya melalui nasihat-nasihat yang mereka berikan kepada anaknya. Sayangnya ketika masih anak-anak, nasihat-nasihat tersebut seringkali kita abaikan, mungkin baru teringat dan terasa gaungnya saat sudah semakin dewasa dan mengalami langsung situasi yang disasar oleh nasihat tersebut.
Kali ini ujaran hikmat dalam Amsal juga menempatkan dirinya dalam konteks didikan serta nasihat yang disampaikan oleh seorang ayah. Pada masa itu sistem budaya patriakal yang berpusat di laki-laki menempatkan seorang ayah sebagai seorang pemimpin utama keluarga. Dari seorang ayah keluar keputusan-keputusan penting dalam keluarga, termasuk pengajaran kepada anak-anaknya. Nasihat sang ayah dalam bacaan kita dimulai dengan kata berikut ini, “Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.” Hati menjadi pusat dari pengertian. Dalam alam pikir Israel kuno, hati dikaitkan dengan kesadaran, pengertian/kebijaksanaan, sekaligus bagian diri manusia yang terhubung dengan-Nya serta mengarahkan kepada kebaikan. Hati manusia adalah pusat dari hidupnya, maka jagalah itu dengan penuh kewaspadaan (ay. 23).
Setelah menyampaikan pengantarnya, nasihat-nasihat kemudian dilanjutkan. Beberapa pokok yang diungkapkan dalam bacaan kita kali ini adalah tentang ajakan untuk menghormati, mengejar, dan meraih hikmat, serta menjauhi jalan orang fasik. Dari argumentasi ini kita melihat bahwa pengejaran hikmat akan membawa kepada moralitas yang benar serta penyembahan yang utuh kepada Tuhan. Sementara orang fasik adalah mereka yang mengabaikan hikmat serta berjalan dalam jalan kejahatan dan pengejaran pemenuhan hawa nafsu yang tiada henti. Mereka yang mengejar hikmat adalah orang benar yang jalannya dipenuhi terang. Jalan orang fasik adalah kegelapan yang membuat seseorang jatuh karena tersandung. Sang ayah kemudian memohon agar anaknya mendengarkan dengan sungguh. Mengingat nasihat di atas sebagai pedoman bagi hidupnya agar jauh dari kejahatan (ay.27).
Sahabat Alkitab, selayaknya kasih seorang ayah dan ibu, Tuhan juga menghendaki kita untuk hidup kudus dan benar. Pada saat ini kita diajarkan untuk menempuh jalan hikmat yang menuntun kepada kebenaran serta mengabaikan jalan orang fasik yang penuh glorifikasi serta pembenaran terhadap hawa nafsunya. Jika direnungkan lebih mendalam bukankah garis besar nasihat setiap orangtua kita adalah hal tersebut. Maka dari itu marilah kita tunduk pada nasihat tersebut dan berpegang senantiasa pada apa yang benar. Mungkin tidak mudah untuk menjalaninya, tetapi di tengah dunia yang penuh kekacauan dan moralitas terbalik, hanya itulah satu-satunya pilihan kita untuk menjadi anak-Nya yang taat dan setia.
























