Semula semuanya tampak biasa saja. Sebuah percakapan ringan, saling bertukar cerita tentang pekerjaan, keluarga, atau pelayanan. Tidak ada niat buruk, tidak ada rencana tersembunyi. Namun, seiring waktu, percakapan itu menjadi semakin pribadi. Batas yang tadinya jelas mulai kabur. Apa yang awalnya terasa wajar perlahan berubah menjadi keterikatan emosional yang sulit dijelaskan, dan lebih sulit lagi dihentikan. Kisah seperti ini tidak asing dalam kehidupan masa kini. Ia dapat terjadi di kota maupun di desa, di ruang kerja, lingkungan sosial, bahkan komunitas iman. Dunia digital dan kedekatan sosial membuat perjumpaan semakin mudah, tetapi sekaligus menjadikan batas relasi semakin rapuh. Godaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang mencolok; sering kali ia datang dengan wajah yang ramah dan kata-kata yang menenangkan.
Situasi semacam inilah yang disoroti Amsal 5. Pasal ini lahir dari keprihatinan terhadap kemerosotan moral dalam masyarakat Israel pasca-Pembuangan, terutama ketidaksetiaan dalam pernikahan dan kecenderungan menjalin relasi dengan pelacur. Pengajaran serupa juga dikenal luas dalam sastra hikmat Mesir dan Babilonia, menunjukkan bahwa pergumulan menjaga kesetiaan merupakan persoalan manusia lintas zaman dan budaya. Karena itu, nasihat ini hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk melindungi kehidupan.
Secara sastra, Amsal 5 disusun sebagai instruksi hikmat. Sang guru memulai dengan ajakan yang lembut namun tegas, “Hai anakku, perhatikanlah hikmatku” (ay. 1). Hikmat selalu menuntut perhatian karena ia berbicara kepada kebebasan manusia. Selanjutnya, peringatan disampaikan dengan jelas: “Jauhkanlah jalanmu dari dia” (ay. 8). Godaan digambarkan manis pada awalnya, tetapi pahit pada akhirnya, menggerogoti martabat, relasi, dan masa depan.
Di tengah peringatan itu, muncul gambaran yang indah dan penuh makna, “Minumlah air dari perigimu sendiri” (ay. 15). Kesetiaan kepada pasangan digambarkan sebagai sumber kehidupan yang menyegarkan. Kasih yang dijaga bukanlah kasih yang sempit, melainkan kasih yang bertumbuh dan membawa sukacita. Sebaliknya, relasi yang melampaui batas justru menguras dan menjerat.
Sahabat Alkitab, Amsal 5 mengingatkan kita bahwa menjaga batas adalah bagian dari merawat kasih. Kekudusan relasi bukan sekadar soal larangan, melainkan tentang memilih kehidupan. Di tengah dunia yang semakin terbuka dan godaan yang kian dekat, hikmat mengajak kita untuk menimbang setiap langkah, memelihara kesetiaan, dan merawat kasih sebagai anugerah Allah yang berharga.
























