Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan pilihan-pilihan yang tampak sepele, tetapi berdampak panjang. Menunda pekerjaan, mengambil tanggung jawab tanpa pertimbangan matang, atau membiarkan kebiasaan malas tumbuh perlahan. Semuanya kerap dianggap wajar. Namun, dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah arah hidup sering kali dibentuk, entah menuju keutuhan atau justru kekurangan.
Amsal 6:1-19 memuat rangkaian nasihat guru hikmat yang sangat praktis. Berbeda dengan bagian-bagian sebelumnya, perikop ini tidak secara eksplisit menafsirkan hikmat secara teologis, melainkan langsung menyentuh realitas hidup sehari-hari. Pengajarannya pun beragam: peringatan agar berhati-hati menjadi penanggung bagi sesama (ay. 1-5), nasihat keras terhadap kemalasan (ay. 6-11), gambaran tentang perilaku pengacau (ay. 12–15), hingga peringatan mengenai enam perkara yang dibenci Tuhan (ay. 16–19). Keseluruhan nasihat ini mencerminkan dunia pendidikan hikmat pada masa Kerajaan, yang bertujuan membentuk sikap hidup murid secara konkret.
Fokus yang menonjol dalam perikop ini adalah persoalan kemalasan. Dalam Kitab Amsal, kemiskinan dipahami melalui dua sudut pandang. Ada kemiskinan yang lahir dari penindasan, yang menuntut pembebasan dari pihak yang berkuasa, dan ada kemiskinan yang disebabkan oleh kelalaian dan kemalasan. Amsal 6 berbicara tentang jenis yang kedua. Kemiskinan tidak dipandang negatif dari segi martabat manusia di hadapan Tuhan, sebab baik orang miskin maupun kaya sama-sama ciptaan-Nya. Namun, sikap hidup malas yang membawa pada kekurangan tidak dapat ditoleransi. Untuk itu, guru hikmat mengajak murid belajar dari makhluk yang sederhana: semut. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah kelakuannya dan jadilah bijak” (ay. 6). Semut digambarkan sebagai makhluk yang mampu mendisiplinkan diri tanpa pemimpin, pengatur, atau penguasa. Ia bekerja dengan teratur, rajin, dan sistematis, memanfaatkan musim panas dan masa panen untuk memastikan kecukupan. Dalam gambaran ini, kerajinan bukan sekadar soal bekerja keras, melainkan tentang kepekaan terhadap waktu dan tanggung jawab atas kehidupan.
Sahabat Alkitab, hikmat yang ditawarkan Amsal 6 membentuk sikap hidup yang sadar akan konsekuensi. Kerajinan menuntun pada kecukupan, sementara kemalasan membuka jalan bagi kekurangan yang datang perlahan namun pasti. Di tengah budaya menunda dan hidup serba instan, nasihat ini mengajak kita untuk kembali mengelola waktu dan tanggung jawab dengan bijak. Hikmat sejati tidak hanya dipahami, tetapi dijalani. Hikmat turut membentuk sikap hidup yang rajin, bertanggung jawab, dan peka terhadap musim kehidupan yang sedang kita jalani.
























