Di tengah kehidupan yang serba cepat dan terbuka, kejatuhan moral jarang bermula dari keputusan besar yang disadari sejak awal. Ia lebih sering lahir dari kelalaian kecil yang dibiarkan: percakapan yang terasa aman, perhatian yang dianggap wajar, atau pesan pribadi yang awalnya sekadar basa-basi. Banyak orang tidak pernah berniat melangkah terlalu jauh, tetapi lupa bahwa langkah yang tidak diawasi, cepat atau lambat, akan kehilangan arah. Ketika nasihat lama dianggap tidak lagi relevan, manusia mulai berjalan tanpa rambu.
Pengajaran Amsal 6:20-35 berbicara tepat di ruang kelengahan ini.diawali dengan sapaan khas, “hai anakku”, sebuah ungkapan relasional yang menegaskan bahwa nasihat ini lahir dari kepedulian. Guru hikmat mengingatkan agar perintah ayah dan ajaran ibu dipelihara, ditambatkan di hati dan dikalungkan di leher. Dalam tradisi Israel Kuno, pendidikan keluarga dipandang amat penting; mendengarkan dan memelihara pengajaran orang tua identik dengan menerima hikmat itu sendiri. Bahkan, perintah dan ajaran orang tua disepadankan dengan perintah dan ajaran Tuhan, sebagaimana digambarkan dalam Taurat.
Pengajaran itu digambarkan memiliki fungsi yang nyata: menuntun ketika berjalan, menjaga ketika berbaring, dan menyapa ketika bangun. Melalui kalimat pesan ayat 23, guru hikmat menjelaskan alasannya, “Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.” Pelita dan cahaya menolong seseorang melihat arah, menghindari bahaya, dan tidak tersandung. Teguran yang mendidik bukanlah hukuman, melainkan sarana pembentukan menuju kehidupan yang utuh.
Secara khusus, pengajaran ini berfungsi sebagai pelindung dari bahaya perzinahan. Guru hikmat menegaskan bahwa kejatuhan sering bermula dari hati yang dibiarkan terpikat dan mata yang tidak dijaga. Perzinahan digambarkan bukan hanya sebagai pelanggaran moral, tetapi sebagai tindakan yang merusak hidup, mendatangkan kehinaan, penderitaan, bahkan kematian. Berbeda dengan pencurian yang masih dapat ditebus, luka akibat perzinahan meninggalkan aib yang sulit dihapuskan.
Sahabat Alkitab, renungan hari ini mengajak kita untuk kembali merawat hikmat yang telah diterima. Hidup dalam terang bukanlah hidup tanpa godaan, melainkan hidup yang bersedia untuk senantiasa dijaga. Ketika perintah menjadi pelita dan ajaran menjadi cahaya, manusia dimampukan berjalan di jalan kehidupan. Jalan yang membawa keutuhan, keteguhan, dan damai yang sejati.
























