Sebuah lagu rohani populer mengatakan bahwa sesungguhnya jalan Tuhan adalah jalan yang tidak terselami oleh keterbatasan hati dan pikiran manusia. Bukankah dalam pengalaman kita berelasi dengan-Nya, itulah yang seringkali terjadi. Membutuhkan sebuah ketekunan dan refleksi yang mendalam untuk dapat menyelami kehendak dan juga didikan Allah bagi kita. Namun, itulah yang menjadi bagian dari hidup beriman yakni untuk menemukan makna dan didikan dalam relasi dengan Tuhan Sang Pemilik Kehidupan. Pada akhirnya bukan kita yang menemukan-Nya, melainkan Allah yang menyatakan diri-Nya dan berkenan untuk kita kenali dan sapa dengan penuh kesungguhan.
Firman Tuhan yang kita baca kali ini juga mengungkapkan dimensi yang serupa. Setelah sebelumnya memberitakan penyertaan dan penghukuman-Nya, Tuhan mengundang umat-Nya untuk mendengarkan Dia dengan seksama. Antara keadilan dan kasih seolah-olah memang dua hal yang bertentangan, adakah didikan Tuhan yang dapat dipetik dari dua proses tersebut? Allah menjawabnya dengan mengajukan sebuah metafora tentang petani yang menggarap lahannya.
Bukankah petani tidak selalu menggarap lahannya. Adakalanya ia berhenti sejenak dan membiarkan tanamannya tumbuh. Meskipun demikian tujuan akhirnya jelas agar sang tanaman bertumbuh dengan lebat. Demikianlah juga Allah terhadap manusia. Ia mengajar, mengasihi, dan mendidik kita meskipun terkadang kita tidak bisa memahaminya bukan berarti Tuhan berhenti untuk mengajar serta mendidik anak-anak-Nya.
Semoga kita juga diberikan hikmat dan kebijaksanaan untuk dapat mengenali kehendak-Nya. Melihat segala sesuatu sebagai bagian dari cara Tuhan mengasihi dan mendidik kita. Dengan demikian kita tetap berada di jalan yang benar, yakni jalan yang dikehendaki-Nya.
























