Beberapa waktu terakhir, perbincangan tentang love language kembali ramai, terutama soal words of affirmation. Ada yang menganggapnya penting, bahkan esensial dalam sebuah relasi. Namun tidak sedikit pula yang meragukannya dan menganggap itu hanya sebuah gombalan kosong. Bukankah cinta seharusnya dibuktikan lewat tindakan, bukan sekadar ucapan? Di tengah perdebatan itu, ada satu hal yang sering terlewat, bahwa manusia pada dasarnya rindu didengar, dilihat, dan divalidasi melalui kata-kata. Sebab seringkali, cara kita memandang diri sendiri dibentuk oleh suara-suara yang kita dengar berulang kali. Di sinilah Kidung Agung 1:9-2:7 menghadirkan wajah cinta yang tidak hanya hadir, tetapi juga bersuara, dan melalui itu, menolong seseorang menemukan dirinya kembali.
Dalam teks ini, cinta berbicara dengan lembut namun kuat. Sang kekasih memuji, melihat, dan menyebut yang dikasihinya sebagai pribadi yang indah dan berharga. Pujian itu bukan sekadar ungkapan manis, melainkan cara memandang yang memulihkan. Perempuan itu merespons dengan bahasa yang sama hangatnya, dan di antara mereka terjalin dialog yang saling meneguhkan: melihat dan dilihat, mengenal dan dikenal. Di titik ini, cinta menjadi ruang di mana seseorang tidak lagi bersembunyi, tetapi berani hadir sebagai dirinya sendiri.
Ada satu momen menarik, yaitu ketika perempuan itu berkata: “Aku bunga mawar dari Saron, bunga bakung di lembah-lembah.” Saron merupakan suatu dataran yang dipenuhi berbagai bunga. Dengan ungkapan tersebut seolah ia ingin berkata bahwa dirinya biasa saja, tidak istimewa, hanya seperti salah satu bunga di antara banyak bunga lain di lembah tersebut. Namun jawaban kekasihnya mengubah seluruh cara pandang itu: “Seperti bunga bakung di antara onak-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis.” Yang satu melihat dirinya biasa saja, yang lain melihatnya berharga di tengah yang lain. Di sinilah kita melihat bahwa cinta yang benar tidak tergesa-gesa menilai, tetapi perlahan menyingkapkan keindahan yang sering kali tersembunyi di balik cara kita memandang diri sendiri. Dalam relasi yang sehat, kata-kata menjadi cermin yang jernih bukan pujian kosong, melainkan jalan untuk melihat diri dengan lebih utuh.
Sahabat Alkitab, mencintai tidak seharusnya membuat kita kehilangan diri sendiri. Dalam cinta yang benar, perbedaan menjadi ruang untuk saling menumbuhkan, bukan saling melemahkan. Kita belajar menerima kata-kata yang menguatkan dengan hati terbuka dan bijaksana—tidak terburu-buru curiga atau menjadi sinis terhadap pujian, sebab ada saatnya jiwa kita pun perlu dirayakan. Pada saat yang sama, kita juga dipanggil untuk tidak pelit mengucapkannya, menghadirkan kata-kata yang menghidupkan bagi sesama. Sebab cinta yang dewasa bukan hanya tentang ditemukan, tetapi juga tentang menjadi tempat di mana orang lain dapat menemukan dirinya.
























