Milikkulah Kekasihku, dan Aku Milik Dia

Renungan Harian | 22 Apr 2026

Milikkulah Kekasihku, dan Aku Milik Dia

Ada saat dalam hidup ketika cinta tidak hanya hadir sebagai perasaan, tetapi sebagai panggilan untuk datang mendekat, mengetuk, dan mengundang kita untuk bangkit. Dalam Kidung Agung 2:8-17, sang wanita membayangkan kekasihnya datang melintasi pegunungan, lincah seperti kijang, memanggilnya keluar dari ruang yang sempit menuju musim yang baru. Musim semi digambarkan begitu hidup, dengan bunga-bunga bermekaran, suara burung terdengar, kehidupan kembali berdenyut. Namun di tengah keindahan itu, ada kesadaran yang jujur, bahwa cinta juga perlu dijaga. “Tangkaplah rubah-rubah bagi kami”, sebuah permohonan yang sederhana, tapi mendalam. Rubah-rubah itu bisa saja diartikan sebagai binatang yang nyata, perusak kebun anggur. Namun secara metaforis, ia melambangkan hal-hal kecil yang kerap diabaikan dalam sebuah hubungan, seperti: kecemburuan, kecurigaan, ego, luka yang tidak diselesaikan. Hal-hal kecil, tetapi perlahan dapat merusak apa yang sedang bertumbuh indah. Maka cinta bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga perlu dirawat dengan penuh kesadaran.

 

Dan di tengah dinamika itu, terdengar sebuah pengakuan penuh komitmen: “Milikkulah kekasihku, dan aku milik dia.” Pengakuan yang seimbang, tanpa dominasi, tanpa hirarki, sebuah perjanjian yang lahir dari pilihan sukarela. “Milik” di sini bukan tentang menguasai, melainkan mempercayakan diri. Bukan kehilangan kebebasan, melainkan menemukan tempat untuk pulang. Secara psikologis, inilah kebutuhan terdalam manusia: memiliki dan dimiliki. Bukan dalam ketergantungan yang rapuh, tetapi dalam keterikatan yang sehat, di mana dua pribadi yang utuh memilih untuk saling hadir.

 

Sahabat Alkitab, di tengah dunia yang terus berubah, seperti musim yang datang dan pergi, cinta menghadirkan kepastian bahwa kita memiliki tempat untuk pulang. Di dalamnya, kita tidak perlu menyembunyikan diri atau mengenakan topeng, sebab kita diterima apa adanya. Dan dari rasa diterima itulah, jiwa kita menemukan ketenangan. Kita tak perlu lagi merasa cemas dan bertanya apakah kita cukup berharga. 

 

Namun cinta yang sejati tidak berhenti pada rasa aman, ia juga memanggil kita untuk menjaga relasi dari “hal-hal kecil” yang sering diabaikan, tetapi diam-diam menggerogoti: prasangka, ego, luka yang tidak dibereskan. Sebab dalam kenyataannya, bukan hal besar yang paling sering merusak relasi, melainkan hal-hal kecil yang dibiarkan bertumpuk tanpa disadari. Di sinilah kita belajar bahwa mengatakan “Milikkulah kekasihku, dan aku milik dia” bukanlah tentang saling mengikat atau menguasai, melainkan tentang saling mempercayakan diri. Dua pribadi yang utuh memilih untuk saling hadir, saling menopang, dan saling memberi ruang untuk bertumbuh. Inilah cinta yang meneguhkan, yang menolong kita menjadi semakin utuh. Sebab pada akhirnya, cinta yang dewasa bukan hanya memberi kita tempat untuk pulang, tetapi juga menjadi ruang di mana kita, dan orang yang kita kasihi, dapat terus bertumbuh, tanpa kehilangan kebebasan, tanpa kehilangan diri.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia