Cinta: Diperjuangkan dan Dirayakan

Renungan Harian | 23 Apr 2026

Cinta: Diperjuangkan dan Dirayakan

Ada kalanya relasi diuji bukan hanya oleh jarak yang memisahkan, tetapi juga oleh komunikasi yang perlahan merenggang. Ada yang berpendapat bahwa mencintai berarti percaya sepenuhnya tanpa perlu selalu “memberi kabar”. Namun ada pula yang merasa bahwa kehadiran justru terasa melalui perhatian-perhatian sederhana, termasuk kabar yang dibagikan. Di antara dua pandangan itu, kita sering berdiri di persimpangan, dengan mencari cara mencintai yang tetap memberi ruang, namun tidak kehilangan kedekatan.

 

Dalam Kidung Agung 3:1-11, pergulatan itu hadir dalam bentuk yang puitis sekaligus jujur. Sang perempuan mencari “jantung hatinya” di atas tempat tidurnya, tetapi tidak menemukannya. Ia tidak berhenti pada penantian; ia bangkit, melangkah di gelap malam, menyusuri kota dengan hati yang gelisah. Kerinduannya digambarkan sebagai perjalanan. Bergerak dan tak mau diam. Ada kecemasan ketika yang dikasihi terasa jauh, seakan ikatan cintanya diuji oleh ketidakhadiran. Namun cinta yang dewasa tidak menyerah pada jarak atau keheningan; ia memilih untuk tetap mencari. Ketika akhirnya ia menemukan yang dikasihi, ia memegang dan tidak melepaskannya. Ini bukan sekadar pelukan emosional, tetapi komitmen yang lahir dari pencarian. Bahkan ia membawanya ke rumah ibunya. Sebuah simbol kerinduan akan relasi yang teguh, yang diakui, yang berakar. Namun ia tetap ingat tentang larangan membangkitkan cinta sebelum waktunya. Sebab cinta sejati tidak dapat dipaksakan, ia akan bertumbuh dalam kesabaran.

 

Lalu suasana berubah. Dari malam yang sunyi menuju iring-iringan yang megah, di sana ada harum mur dan kemenyan, penjagaan yang kuat, kemuliaan yang dinyatakan. Apa yang diperjuangkan dalam gelap kini dirayakan dalam terang. Cinta tidak lagi tersembunyi, tetapi dimuliakan.

 

Sahabat Alkitab, mungkin kita pun pernah berada di persimpangan itu: antara memberi ruang dan merawat kedekatan, antara percaya dan tetap hadir.  Renungan hari ini mengingatkan kita, bahwa cinta sejati tidak lahir dari sikap tak acuh, tetapi dari keberanian untuk mencari dan tetap hadir. Mungkin dengan sekedar menyapa, menanyakan kabar dengan tulus, atau mengkomunikasikan situasi agar kesalahpahaman tidak berlarut-larut. Sebab sering kali yang merenggangkan sebuah hubungan bukanlah jarak, melainkan hati yang perlahan berhenti saling mendekat.

 

Di saat yang sama, cinta juga mengajak kita untuk bersikap bijak dan memberi ruang bagi pertumbuhan yang sehat dalam diri masing-masing. Ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk menunggu, dan ada waktu untuk merayakan. Sebab pada akhirnya, cinta yang dewasa bukan hanya tentang menemukan, tetapi tentang berani memperjuangkan. Dan ketika ia tetap bertahan melewati malam-malam pencarian, kita belajar mensyukurinya, merayakannya, dan menjaganya dengan lebih sungguh.


Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia