Sering kali kita lebih mudah melihat kekurangan daripada mengungkapkan kelebihan/keindahan dalam diri pasangan. Kata-kata romantis yang dulu begitu mudah diucapkan, perlahan menjadi jarang terdengar. Padahal, bukan karena cinta itu hilang, tetapi karena kita mulai berhenti menyadari betapa berharganya kehadiran satu sama lain. Setelah cinta diperjuangkan dan dirayakan, ada satu fase yang kerap terlupakan, yaitu bagaimana cinta itu dipelihara, bagaimana kita memandang, yang pada akhirnya membentuk cara kita menghargai dan mensyukuri kehadiran satu sama lain.
Dalam Kidung Agung 4:1-15, sang mempelai pria mengungkapkan kekagumannya dengan begitu rinci dan puitis. Ia tidak sekadar berkata “betapa cantik engkau,” tetapi menguraikannya dengan metafora unik: mata seperti merpati, rambut bagaikan kawanan kambing yang bergelombang, gigi seputih domba yang baru dicukur, bibir seperti pita merah tua, dan pelipis seperti buah delima. Semua gambaran ini bukan sekadar estetika, tetapi caranya menatap lekat kekasihnya. Ia melihat, lalu mengungkapkan. Ia mengagumi, lalu menyatakan. Pujian “Engkau cantik sekali, manisku, tak ada cacat cela padamu”, seolah menegaskan bahwa cinta sejati tidak berfokus pada kekurangan untuk dikoreksi, tetapi menemukan keindahan untuk dirayakan. Lebih jauh, sang pria tidak hanya memuji, tetapi juga melindungi. Ia memanggil kekasihnya turun dari pegunungan yang berbahaya, tempat singa dan macan tutul bersembunyi. Dengan cintanya ia ingin menghadirkan rasa aman.
Dalam keindahan itu, muncul gambaran tentang kemurnian dan kenikmatan cinta: seperti madu yang menetes, seperti anggur yang nikmat, dan seperti aroma minyak wewangian. Berbagai metafora ini menggambarkan betapa cinta sejati sungguh bernilai, murni, dan layak disyukuri.
Sahabat Alkitab, dari sini kita belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dijalani, ia perlu dihargai dan disyukuri. Menghargai berarti belajar melihat pasangan dengan kepekaan dan ketulusan, sebab dari situlah rasa aman dan keutuhan dalam relasi perlahan bertumbuh. Mensyukuri berarti menyadari bahwa kehadirannya bukan sesuatu yang biasa, melainkan anugerah yang dipercayakan. Lebih dari itu, cara kita menghargai dan mencintai pasangan mencerminkan bagaimana kita merespons kasih Tuhan yang lebih dahulu kita terima. Karena itu, biarlah cinta kita terungkap melalui seluruh keberadaan diri kita: melalui kata-kata, sikap, dan tindakan nyata. Tak perlu ragu untuk mengekspresikan kasih yang tulus.
























