Berani Mencintai

Renungan Harian | 20 Apr 2026

Berani Mencintai

Mencintai sering kali tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di satu sisi, ia menghadirkan kehangatan dan kedekatan; tetapi di sisi lain, ia juga membuka ruang kerentanan yang diam-diam membuat hati kita ragu untuk melangkah lebih jauh. Karena itu, tidak sedikit orang memilih menjaga jarak, menyembunyikan perasaan, atau menahan diri agar tidak terlalu terlibat. Bukan karena tidak mampu mencintai, tetapi karena takut: takut ditolak, takut disakiti, takut kehilangan kendali atas diri sendiri. Kita hidup di tengah budaya yang fasih berbicara tentang relasi, tetapi sering gagap ketika harus sungguh-sungguh hadir di dalamnya. Di tengah situasi seperti ini, suara dari Kidung Agung justru terdengar begitu jujur dan berani. Renungan ini dibuka bukan dengan keraguan, melainkan dengan kerinduan yang diungkapkan dengan jujur: “Kiranya ia mencium aku…”. Seorang perempuan mengambil inisiatif. Ia tidak menunggu, ia tidak menyembunyikan hasratnya. Ia berani mengakui bahwa cinta bukan sekadar konsep, tetapi kebutuhan yang hidup di dalam dirinya. Bahkan, ia memuji kekasihnya dengan bahasa yang sarat rasa dan pengalaman inderawi, seolah cinta itu tidak hanya dirasakan, tetapi dihirup, dikecap, dan dialami sepenuhnya.

 

Namun keberanian itu tidak lahir dari kehampaan. Di ayat 5-6, perempuan ini mengakui dirinya apa adanya: “Hitam memang aku, tetapi cantik.” Dalam konteks sosial kuno, kulit gelap adalah tanda kerja keras, tanda bahwa ia bukan bagian dari kalangan terhormat. Ada potensi rasa rendah diri, ada bayang-bayang penilaian sosial. Tetapi ia tidak menyangkal dirinya, juga tidak berusaha menjadi orang lain. Ia berdiri di dalam identitasnya sendiri dan berkata: aku cantik. Di sini kita melihat sesuatu yang amat penting, tentang cinta yang bertumbuh dari keberanian menerima diri. Sikap demikian memampukan seseorang membangun relasi yang sehat, berakar pada rasa aman dalam diri sendiri. Tanpa penerimaan diri, cinta mudah berubah menjadi kecemasan; tetapi dengan penerimaan, cinta menjadi ruang kepercayaan. Maka tidak heran jika kerinduan perempuan ini tidak berhenti sebagai perasaan dan angan-angan. Ia bergerak, ia mencari, ia bertanya: “Ceritakanlah kepadaku… di mana kakanda menggembalakan…” (ay. 7). Ia tidak mau berkeliaran tanpa arah, tidak mau terjebak dalam ketidakjelasan yang menggerus harga diri. Ia memilih untuk mengejar kejelasan, karena cinta yang sejati tidak bertahan dalam kebimbangan, melainkan berjalan menuju terang.

 

Barangkali di titik ini kita diingatkan bahwa yang sering hilang dalam relasi kita hari ini bukanlah perasaan, melainkan keberanian. Keberanian untuk jujur tentang apa yang kita rasakan, keberanian untuk menerima siapa diri kita, dan keberanian untuk mencari kejelasan dalam relasi yang kita jalani. Kidung Agung tidak mengajak kita mencintai dengan cara yang ‘aman tanpa pertimbangan’, tetapi dengan cara yang hidup, yang melibatkan risiko, kejujuran, dan keterbukaan. Maka hari ini kita diingatkan bukan pertama-tama untuk menemukan cinta yang sempurna, tetapi untuk menjadi pribadi yang berani mencintai: berani membuka hati tanpa kehilangan diri, berani merindu tanpa berpura-pura, dan berani melangkah mendekat tanpa terus bersembunyi di balik ketakutan. Sebab pada akhirnya, cinta tidak pernah dimulai dari kepastian, melainkan dari satu langkah kecil keberanian, yang perlahan-lahan membentuk kita menjadi manusia yang utuh.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia