Ketika masih kecil, mungkin kita pernah merasa kesal karena terlalu sering diperingatkan oleh orang tua. Jangan pulang terlalu malam. Hati-hati memilih teman. Jangan mengambil keputusan terburu-buru. Pada saat itu, nasihat-nasihat tersebut sering kali terasa seperti larangan yang membatasi kebebasan. Namun seiring bertambahnya usia, kita mulai menyadari bahwa di balik peringatan itu tersimpan kasih dan kepedulian. Orang tua melihat risiko yang belum tentu mampu kita lihat. Apa yang dahulu terasa mengganggu, ternyata merupakan upaya untuk menjaga dan melindungi.
Dalam Yesaya 31, Tuhan juga sedang menyampaikan peringatan kepada Yehuda. Pada akhir abad ke-8 SM, Yehuda menghadapi ancaman besar dari Asyur. Dalam ketakutan, para pemimpinnya memilih mencari bantuan militer dari Mesir yang terkenal dengan pasukan berkuda dan kereta perangnya. Secara politik, langkah itu tampak masuk akal. Namun, menurut Yesaya, persoalannya bukan terletak pada usaha manusia untuk mencari jalan keluar, melainkan pada sikap hati yang tidak lagi mengandalkan Tuhan. Mereka lebih percaya kepada kekuatan yang terlihat daripada kepada Allah yang selama ini memelihara mereka. Karena itu Yesaya menyampaikan peringatan yang tegas, “sungguh celaka orang yang pergi ke Mesir meminta pertolongan” (ay. 1). Mesir tetaplah manusia, bukan Allah. Kuda-kudanya adalah makhluk fana, bukan roh. Dengan kata lain, segala kekuatan duniawi memiliki batas. Apa yang tampak kokoh hari ini dapat runtuh esok hari. Sebaliknya, Tuhan adalah Pribadi yang setia dan dapat diandalkan.
Sebenarnya Yesaya tidak bermaksud melarang umat menggunakan akal budinya atau berusaha. Namun ia menegaskan bahwa segala keputusan yang hendak diambil harus melalui proses yang benar, urutan yang tepat. Iman harus menjadi dasar bagi setiap keputusan dan tindakan. Karena, ketika manusia menjadikan kemampuan, relasi, kekuasaan, atau sumber daya sebagai sandaran utama hidupnya, perlahan ia akan kehilangan kepekaan untuk menangkap peringatan dari Tuhan. Padahal peringatan tersebut bertujuan untuk melindungi umat-Nya.
Sahabat Alkitab, sering kali Tuhan berbicara melalui firman-Nya, nasihat orang-orang di sekitar kita, maupun pengalaman hidup yang kita jalani. Namun, apakah kita sungguh memberi ruang bagi suara-Nya untuk menuntun langkah kita? Belajar mendengarkan peringatan Tuhan dimulai dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak selalu melihat segala sesuatu dengan benar. Itu berarti bersedia berhenti sejenak, memeriksa arah hidup kita, dan membawa setiap keputusan kepada Tuhan sebelum melangkah lebih jauh. Sebab sering kali masalahnya bukan karena Tuhan tidak berbicara, melainkan karena kita terlalu sibuk mendengar suara ketakutan, ambisi, atau keyakinan kita sendiri. Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki hati yang peka dan taat, sehingga di balik setiap peringatan yang Ia berikan, kita dapat menemukan kasih-Nya yang menjaga, menuntun, dan menyelamatkan.

























