Seorang Bapak terlihat begitu tegas memarahi anaknya atas perbuatan tidak benar yang dilakukan anaknya. Namun kemarahan itu tidak tampak sebagai sesuatu yang menghancurkan, melainkan ada sebuah nuansa kasih yang besar dibalik kemarahan itu. Rupanya kemarahan itu adalah bentuk ketegasan dan kepedulian sang Bapak yang menginginkan anaknya untuk tumbuh menjadi lebih baik. Demikianlah juga yang terjadi dalam relasi kita dengan Allah.
Ayat 18 dibuka dengan sebuah penggambaran akan Allah yang menanti hendak menunjukkan kasih-Nya. Dia adalah Allah yang adil, tetapi keadilan-Nya tidak meniadakan kerinduan-Nya untuk tetap menjaga, merawat, dan mengasihi umat-Nya. Kebahagiaan sejati kembali diwartakan Allah bagi mereka yang berbalik dan menantikan Allah dengan seutuhnya. Menyambung konteks perikop sebelumnya dimana Yehuda lebih mengandalkan Mesir dibandingkan Allah, maka sekarang berbaliklah.
Pemulihan Yehuda perlahan-lahan dikerjakan Allah. Tangisan Sion akan berhenti. Derita yang pernah terjadi akan berganti menjadi sukacita. Inilah proses didikan dan pendisiplinan dari Allah. Kemudian bangsa Yehuda akan menerima kembali bimbingan dari Allah. Asalkan mereka mau mendengarkan Allah dengan sepenuh hati. Berhala dihancurkan dan tidak mendapat tempat dalam ruang peradaban.
Sahabat Alkitab, percayalah bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita sesungguhnya Allah tetap mengasihi kita. Meskipun jalan kehidupan seringkali tampak sulit dan gelap, tetapi percayalah bahwa Allah senantiasa menyertai kita. Segala sesuatu terjadi dalam rangka kasih dan didikan-Nya.
























