Sejarawan sering menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah sekedar alat komunikasi. Dalam banyak masa, bahasa dipakai untuk membentuk cara orang berpikir, mempengaruhi opini, bahkan mempertahankan kekuasaan. Karena itu, para penguasa tidak hanya berusaha menguasai wilayah, tetapi juga mengendalikan narasi yang didengar masyarakat.
Hal serupa tampak dalam Yesaya 36. Ketika utusan Asyur datang ke Yerusalem, ia sengaja berbicara dalam bahasa Ibrani yang dipahami rakyat, bukan bahasa Aram yang biasa digunakan dalam diplomasi. Tujuannya jelas: bukan sekedar menyampaikan pesan, melainkan menanamkan ketakutan. Sebab sering kali sebuah bangsa tidak perlu dikalahkan terlebih dahulu di medan perang; cukup dibuat kehilangan keyakinan di dalam hatinya.
Melalui pidatonya, utusan Asyur berusaha meyakinkan rakyat bahwa kekuatan Asyur adalah kenyataan yang tidak mungkin dilawan, sementara kepercayaan kepada Tuhan dianggap sia-sia. Dengan demikian, yang sedang dipertarungkan bukan hanya kota Yerusalem, melainkan juga keyakinan umat tentang siapa yang sesungguhnya memegang kendali atas hidup mereka. Kekuasaan memang sering kali bekerja bukan hanya melalui paksaan, tetapi juga melalui pembentukan cara berpikir. Narasi yang terus diulang dapat membuat ketakutan terasa lebih nyata daripada harapan.
Bukankah hal yang sama juga sering terjadi dalam hidup kita? Setiap hari kita dikelilingi oleh berbagai narasi yang mengajarkan bahwa nilai seseorang ditentukan oleh pencapaian, bahwa keamanan hanya dapat diperoleh melalui kekuasaan atau materi, atau bahwa kejujuran dan iman adalah sesuatu yang naif di tengah dunia yang keras. Tanpa disadari, suara-suara itu dapat membentuk cara kita memandang diri sendiri, sesama, dan masa depan. Karena itu, pesan Yesaya 36 bukan pertama-tama tentang bagaimana menghilangkan ketakutan, melainkan tentang memilih siapa yang akan kita percayai. Umat Tuhan tidak diminta menyangkal kenyataan bahwa Asyur adalah ancaman yang besar. Mereka hanya diingatkan bahwa ancaman itu bukanlah kebenaran yang terakhir. Di atas segala kuasa manusia, tetap ada Tuhan yang memegang sejarah dan kehidupan umat-Nya.
Sahabat Alkitab, memilih percaya bukanlah sikap menutup mata terhadap kenyataan, melainkan keberanian untuk tidak membiarkan ketakutan menentukan cara kita melihat kenyataan. Di tengah banyaknya suara yang berusaha membentuk cara kita berpikir, kiranya kita terus belajar mendengar suara Tuhan yang menghidupkan pengharapan. Sebab sering kali kemenangan iman dimulai bukan ketika semua masalah selesai, melainkan ketika kita tetap memilih percaya bahwa Tuhan bekerja, bahkan saat keadaan belum berubah.
























