Kesetiaan adalah salah satu keutamaan yang harus diupayakan dalam sebuah relasi. Dalam kesetiaan ada sebuah kesediaan untuk menyediakan diri secara utuh dan penuh bagi orang lain. Kasih diwujudkan dalam komitmen nyata sehari-hari. Namun satu hal yang perlu kita sadari bahwa betapapun kita mencoba untuk mewujudkan kesetiaan secara sempurna, tetaplah kesetiaan Allah sebagai satu-satunya yang sempurna dalam hidup ini.
Pada perikop yang kita baca saat ini Allah menegaskan dan mengingatkan kembali akan kasih setia-Nya. Allah memulai pernyataan dengan sangat lugas dan tegas. Dewa Bel ditundukkan dan Dewa Nebo direbahkan. Keduanya adalah dewa utama dalam kepercayaan Babel, apa yang dinilai perkasa oleh masyarakat Babel ternyata hanyalah benda mati. Ketika Babel jatuh, keduanya hanyalah patung yang memberatkan binatang-binatang yang mengangkutnya (ay. 1). Berhala yang tidak berdaya itu kemudian dikontraskan dengan penyertaan Allah yang hidup dan abadi.
Allah menegaskan kesetiaan-Nya melalui kedaulatan rencana-Nya. Dari semula Allah mengenal Israel, hingga masa akhir pun Allah bersama Israel. Dengan penggambaran yang begitu lembut Allah menegaskan maksudnya, “Sampai masa tuamu Aku tetap sama dan sampai putih rambutmu Aku menggendong kamu” (Yesaya 46:4). Dari semenjak berada di dalam rahim hingga masa tuanya, Allah bersama dengan umat-Nya. Kesetiaan itu adalah anugerah Allah yang memanggil orang-orang ke dalam dekapan kasih-Nya. Bahkan termasuk orang-orang yang masih mengeraskan hati-Nya.
Kenyataan yang diungkapkan firman-Nya pada pasal 46 ini sangat meneduhkan hati, terutama di tengah zaman yang bergejolak ini. Kenyataan hidup yang begitu pahit seringkali menantang iman dan percaya kita kepada Allah. Masihkah Ia besertaku dan kapankah Ia akan menolongku? Pertanyaan tersebut adalah respon wajar dari pribadi yang sedang terhimpit. Namun kiranya Roh-Nya yang kudus mampu mengingatkan kita kembali akan kasih setia-Nya yang tidak pernah berubah sampai kapanpun. Semenjak kita hadir di dunia dan berada dalam rahim ibu kita, hingga masa tua, Allah tetaplah Tuhan yang setia bahkan menggendong kita.
























