Bagi kita yang telah merasakan fase sebagai orangtua, rasanya gemas sekali mendapati anak-anak kita sulit untuk dididik dan cenderung mengulangi kesalahan yang sama. Biasanya para orangtua memilih untuk tidak menyerah atas situasi tersebut. Selalu di cari cara-cara lain untuk mendidik anaknya, meskipun terkadang amarah muncul dan terpaksa menarik nafas panjang. Demikianlah pula yang sesungguhnya Allah kerjakan kepada umat-Nya. Ia memang mengasihi kita, tetapi dalam kasih tersebut ada didikan bahkan yang keras sekalipun dengan tujuan agar kita berbalik dari kesalahan serta menjadi orang benar.
Inilah yang juga terjadi dalam dinamika relasi antara Allah dengan bangsa Israel. Pada paruh pertama perikop kitab, Allah mengungkapkan fakta yang begitu menyedihkan. Mereka bangga dengan status serta identitas keagamaan sebagai bangsa Israel. Namun, bangsa Yehuda tidak benar-benar melakukan apa yang Allah kehendaki. Mereka memalingkan diri dari kebenaran, keadilan, serta integritas yang dikehendaki Allah. Padahal disanalah letaknya iman yang sejati.
Maka Allah tidak tinggal diam melihat umat Israel dengan pemberontakan tersebut. Ia merancang didikan-Nya yang bahkan telah diberitahu sejak jauh hari. Allah tahu bangsa ini begitu tegar tengkuk dan sulit untuk dididik. Pemberitahuan awal dari-Nya untuk menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi dikerjakan Allah untuk memurnikan Israel. Kesengsaraan dipakainya untuk mendidik Israel, selayaknya logam mulia yang dimurnikan dalam perapian.
Sahabat Alkitab, saat ini kita mungkin tengah mengalami peristiwa yang begitu berat dan tidak mengenakkan dalam kehidupan. Yakinlah bahwa Allah tetap memegang kendali dan akan mengerjakan bagian yang terbaik. Bukalah hati pada kemungkinan bahwa apa yang terjadi tersebut merupakan cara Allah untuk mendidik serta mendewasakan kita. Semoga Allah menuntun kita dalam hikmat-Nya untuk dapat memaknai segala sesuatu seturut cara serta kehendak-Nya.
























