Salah satu kekhasan kitab Yesaya adalah serangkaian nubuatan yang menyatakan kedatangan Hamba Tuhan. Menariknya dalam perkembangan penafsiran terkemudian, ada banyak pendapat tentang siapa itu Hamba Tuhan. Diantaranya adalah bangsa Israel secara komunal, sisa Israel yang setia, atau sesosok individu yang akan datang. Meskipun tekanan ketiganya berbeda, tetapi ada satu garis yang sama yakni tentang manusia yang dilibatkan dalam perwujudan karya Tuhan di dunia.
Simaklah bacaan kita pada hari ini. Yesaya memulainya dengan menampilkan seruan seseorang yang memanggil bangsa-bangsa untuk menjadi saksi atas peristiwa hebat yang dikerjakan Allah pada dirinya. Hamba Tuhan terletak pada sesosok pribadi yang akan diutusnya. Ia berkata, “Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan; ia menyebut namaku sejak dari rahim ibuku.” Seruan tersebut adalah penegasan bahwa apapun yang akan dikatakan setelahnya merupakan bagian dari rencana Allah. Dari mulutnya ada ketajaman kata-kata yang menyerukan kebenaran. Bagaikan anak panah yang melesat dari tangan sang pemanah, demikianlah sang hamba Tuhan siap untuk dilesatkan menuju sasaran yang ditetapkan-Nya.
Saat itu sasaran atau misi yang ditetapkan Tuhan pada hamba-Nya adalah pembebasan Israel dari tanah Babel, tetapi bukan itu saja melainkan dari karya yang teranyam atas Israel maka terang Tuhan akan terpancar ke segala bangsa. Apa yang terjadi kepada Israel dan dikerjakan Tuhan melalui sang hamba Tuhan menjadi peretas jalan bagi tersiarnya karya Allah ke seluruh dunia.
Perhatikanlah bahwa dalam perikop kali ini seorang manusia menjadi alat tetapi sekaligus saksi atas karya-karya yang dikerjakan Tuhan kepada dunia. Pertanyaan terbesar yang menjadi pemantik peziarahan umat manusia adalah mengapa Tuhan yang Maha Kuasa itu selalu melibatkan kita dalam perwujudan karya-Nya dan pewartaannya? Mungkin Allah yang menciptakan kita itu percaya akan kemampuan kita untuk memikirkan, berkarya, dan melahirkan kebajikan berdasarkan kehendak-Nya semata. Jadi dalam keterikatan dengan-Nya, manusia dimampukan mengerjakan kebaikan di tengah dunia. Maka dari itu jika kita melihat persoalan terjadi di sekitar kita, baik itu di kantor, di tengah lingkungan kita berada, dan negara ini, janganlah menunggu dan lakukanlah apa yang bisa menjadi bagian kita.
























