Bagi bangsa Israel, peristiwa keluaran dari Mesir merupakan kisah besar tentang Allah yang membebaskan umat-Nya. Menariknya, ketika menulis kepada umat yang hidup dalam pembuangan di Babel, Yesaya kembali memakai gambaran serupa. Tuhan berjanji membebaskan para tawanan, menuntun mereka melewati jalan-jalan yang tandus, memberi mereka makan dan minum, serta membawa mereka pulang (ay. 8-13). Para ahli menyebutnya sebagai “Eksodus Baru”, sebuah karya penyelamatan yang menandakan bahwa Allah belum selesai dengan umat-Nya.
Namun, tepat di tengah kabar pengharapan itu, terdengar ratapan yang mengejutkan: “TUHAN telah meninggalkan aku, dan Tuhanku telah melupakan aku” (ay. 14). Secara manusiawi, keluhan itu dapat dimengerti. Pembuangan yang panjang membuat mereka sulit melihat bahwa Allah sesungguhnya sedang bekerja. Penderitaan yang berkepanjangan telah membentuk cara pandang mereka, sehingga janji Tuhan terasa lebih jauh daripada kenyataan yang mereka alami.
Jawaban Tuhan pun begitu lembut sekaligus menggetarkan, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya? …. Kalaupun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” Lalu Tuhan menambahkan sebuah metafora yang sangat indah, “Lihatlah, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (ay. 16). Dalam budaya Timur Dekat Kuno, tanda pada tangan dapat melambangkan identitas atau kepemilikan. Namun di sini gambaran itu dibalik. Bukan manusia yang menandai dirinya sebagai milik Allah, melainkan Allah sendiri yang menyatakan bahwa umat-Nya selalu ada dalam ingatan dan perhatian-Nya.
Sahabat Alkitab, ada saat-saat ketika hidup membuat kita sulit melihat karya Tuhan. Doa terasa belum terjawab, jalan keluar belum tampak, dan kita mulai bertanya apakah Tuhan masih mengingat kita. Yesaya 49 mengingatkan bahwa apa yang kita rasakan tidak selalu menggambarkan apa yang sedang Tuhan kerjakan. Bahkan ketika umat merasa ditinggalkan, Allah sedang menyiapkan pemulihan bagi mereka. Demikian pula dalam hidup kita. Di balik proses yang belum kita pahami, Tuhan tetap bekerja dengan setia. Sebab kita tidak pernah keluar dari perhatian-Nya; hidup kita telah terlukis di telapak tangan-Nya, dan tangan yang sama itulah yang terus menuntun kita menuju penggenapan janji-Nya.

























