Mendengar Sebelum Melihat

Renungan Harian | 12 Jul 2026

Mendengar Sebelum Melihat

Manusia cenderung mempercayai apa yang dapat dilihat. Kepastian memberi rasa aman, sementara ketidakjelasan sering melahirkan kecemasan. Karena itu, tidak sedikit keputusan diambil setelah bukti dianggap cukup. Namun perjalanan iman bergerak dengan irama yang berbeda. Ia tidak selalu dimulai dari apa yang tampak di depan mata, melainkan dari kesediaan untuk mendengar suara Tuhan, bahkan ketika arah perjalanan belum sepenuhnya terlihat.

 

Pergumulan itulah yang mewarnai Yesaya 50. Di tengah pembuangan, Israel merasa seakan-akan Allah telah memutuskan hubungan dengan mereka. Tuhan menjawab melalui dua pertanyaan yang berangkat dari praktik hukum pada zaman itu: “Di manakah gerangan surat cerai ibumu?” dan “Kepada siapakah di antara penagih utang-Ku Aku pernah menjual engkau?” (ay. 1). Surat cerai merupakan bukti berakhirnya sebuah ikatan, sedangkan menjual anak menjadi jalan terakhir untuk melunasi utang. Melalui gambaran tersebut, Tuhan menegaskan bahwa pembuangan bukanlah bukti Ia meninggalkan umat-Nya. Perjanjian itu tetap berdiri, yang berubah adalah kesetiaan umat kepada Allah.

 

Di tengah kenyataan itu, tampil sosok hamba Tuhan yang menghadirkan cara hidup yang berbeda. Ia menerima “lidah seorang murid” untuk memberi semangat yang letih. Namun kemampuan itu tidak lahir dari kepandaiannya berbicara, melainkan dari telinga yang setiap pagi dibangunkan untuk mendengar Tuhan. Sebelum menjadi suara bagi sesamanya, ia terlebih dahulu menjadi pendengar bagi Allah. Karena itulah, ketika ketaatan membawanya pada penolakan dan penderitaan, ia tetap teguh. Yang menopang langkahnya bukanlah keadaan yang terlihat, melainkan firman yang terus didengarnya.

 

Puncak perikop ini terdapat pada ajakan untuk tetap percaya kepada Tuhan sekalipun masih berjalan dalam kegelapan (ay. 10). Sebaliknya, Yesaya memperingatkan mereka yang memilih menyalakan api sendiri (ay. 11). Gambaran ini tidak sekedar berbicara tentang terang, tetapi tentang kecenderungan manusia mencari rasa aman melalui kendali, perhitungan, atau kekuatannya sendiri, ketika jawaban Tuhan belum tampak.

 

Sahabat Alkitab, salah satu keterbatasan manusia adalah melihat hidup hanya dari titik tempat ia sedang berdiri. Kita mudah menilai masa depan dari apa yang tampak hari ini. Namun iman mengajarkan cara pandang yang berbeda. Ia mengundang kita untuk mempercayai suara Tuhan lebih daripada keterbatasan penglihatan kita. Sebab ketika mata hanya melihat sebagian kecil dari kisah hidup, Tuhan telah melihat keseluruhannya dan tetap setia menuntun setiap langkah umat-Nya.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia