Manusia cenderung mempercayai apa yang dapat dilihat. Kepastian memberi rasa aman, sementara ketidakjelasan sering melahirkan kecemasan. Karena itu, tidak sedikit keputusan diambil setelah bukti dianggap cukup. Namun perjalanan iman bergerak dengan irama yang berbeda. Ia tidak selalu dimulai dari apa yang tampak di depan mata, melainkan dari kesediaan untuk mendengar suara Tuhan, bahkan ketika arah perjalanan belum sepenuhnya terlihat.
Pergumulan itulah yang mewarnai Yesaya 50. Di tengah pembuangan, Israel merasa seakan-akan Allah telah memutuskan hubungan dengan mereka. Tuhan menjawab melalui dua pertanyaan yang berangkat dari praktik hukum pada zaman itu: “Di manakah gerangan surat cerai ibumu?” dan “Kepada siapakah di antara penagih utang-Ku Aku pernah menjual engkau?” (ay. 1). Surat cerai merupakan bukti berakhirnya sebuah ikatan, sedangkan menjual anak menjadi jalan terakhir untuk melunasi utang. Melalui gambaran tersebut, Tuhan menegaskan bahwa pembuangan bukanlah bukti Ia meninggalkan umat-Nya. Perjanjian itu tetap berdiri, yang berubah adalah kesetiaan umat kepada Allah.
Di tengah kenyataan itu, tampil sosok hamba Tuhan yang menghadirkan cara hidup yang berbeda. Ia menerima “lidah seorang murid” untuk memberi semangat yang letih. Namun kemampuan itu tidak lahir dari kepandaiannya berbicara, melainkan dari telinga yang setiap pagi dibangunkan untuk mendengar Tuhan. Sebelum menjadi suara bagi sesamanya, ia terlebih dahulu menjadi pendengar bagi Allah. Karena itulah, ketika ketaatan membawanya pada penolakan dan penderitaan, ia tetap teguh. Yang menopang langkahnya bukanlah keadaan yang terlihat, melainkan firman yang terus didengarnya.
Puncak perikop ini terdapat pada ajakan untuk tetap percaya kepada Tuhan sekalipun masih berjalan dalam kegelapan (ay. 10). Sebaliknya, Yesaya memperingatkan mereka yang memilih menyalakan api sendiri (ay. 11). Gambaran ini tidak sekedar berbicara tentang terang, tetapi tentang kecenderungan manusia mencari rasa aman melalui kendali, perhitungan, atau kekuatannya sendiri, ketika jawaban Tuhan belum tampak.
Sahabat Alkitab, salah satu keterbatasan manusia adalah melihat hidup hanya dari titik tempat ia sedang berdiri. Kita mudah menilai masa depan dari apa yang tampak hari ini. Namun iman mengajarkan cara pandang yang berbeda. Ia mengundang kita untuk mempercayai suara Tuhan lebih daripada keterbatasan penglihatan kita. Sebab ketika mata hanya melihat sebagian kecil dari kisah hidup, Tuhan telah melihat keseluruhannya dan tetap setia menuntun setiap langkah umat-Nya.
























