Relasi Allah dengan manusia adalah sebentuk relasi yang kekal tetapi juga dinamis. Menorehkan berbagai sikap, pola pikir, serta tindakan yang terwujud dalam hidup sehari-hari. Jika biasanya kita mengenal Allah yang mencari kita sebagai bentuk anugerah-Nya dalam kesadaran akan keterbatasan kini, pada ayat 1 Ia berseru agar kita juga dapat mencari-Nya. Menariknya mencari Dia disejajarkan dengan mencari kebenaran. Seruan mencari kebenaran itu terkait erat dengan upaya umat di pembuangan untuk mengingat dan menggali kembali apa yang menjadi warisan kebenaran yang telah dibangun pada masa Abraham dan diteruskan untuk selama-lamanya.
Ajakan mencari Dia sebenarnya adalah ajakan untuk melihat dan merasakan pengharapan yang dikerjakan Allah. Rujukan terhadap padang gurun yang diratakan dengan Eden, serta padang belantara yang diubah menjadi kebun-Nya, mengingatkan umat pada peristiwa penciptaan dunia dimana Allah merubah kekacauan menjadi keindahan serta keteraturan. Pada akhirnya umat Allah diundang untuk terjaga dan waspada melihat tanda-tanda zaman. Apabila sudah saatnya Allah berkarya dan memulihkan secara total semesta ini, maka bersiaplah. Kerjakan apa yang menjadi bagian kita.
Pada perikop kita kali ini Allah mewartakan pemulihan Israel. Para penindas Israel kini akan dilenyapkan Allah. Semua ini agar Israel tetap teguh mengikuti Allah senantiasa. Maka bagi kita saat ini, meskipun penderitaan datang silih berganti, tetapi itu semua bukanlah alasan untuk meragukan kekuasaan-Nya. Justru di saat itulah kita harus teguh di dalam iman dan mencari-Nya senantiasa. Mengerjakan kebenaran dan kebaikan di tengah dunia yang bergejolak ini.
























