Paradoks yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita adalah manusia yang katanya berakal budi ini, seringkali justru disesatkan oleh logikanya sendiri dan meninggalkan apa yang benar-benar berharga. Kita mencari validasi diri pada kuasa, kekayaan, dan jabatan, padahal validasi terletak dalam relasi yang utuh dan berharga dengan Sang Pencipta serta orang-orang yang benar-benar tulus mengasihi kita. Kita mencoba untuk memuaskan hawa nafsu dengan beragam cara, padahal semuanya adalah kesia-siaan belaka yang akan berakhir ketika kita berani berkata cukup.
Demikianlah apa yang terjadi dengan Israel. Allah begitu heran melihat Israel. Pada mulanya antara Allah dan Israel terjalin sebuah relasi yang erat dan mesra. Bagaikan pasangan yang berbulan madu yang dapat melihat berbagai keindahan lewat cinta kasih mereka. Namun dengan mudahnya Israel meninggalkan Allah karena terpana dengan ilah-ilah lain yang nyatanya tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan nada yang getir Allah berkata, “Pernahkah suatu bangsa menukar ilahnya padahal ilah-ilah itu bukan Allah? Namun, umat-Ku menukar Allahnya yang mulia dengan ilah-ilah yang tidak berguna (ay.11).”
Pada akhirnya Israel terjerumus kepada kehampaan eksistensi. Ia seharusnya menjadi bangsa pilihan yang membawa berkat Allah kepada segenap bangsa dan membawa bangsa-bangsa kepada Allah. Seperti pohon yang menyalurkan kehidupan kepada makhluk hidup di sekitarnya. Namun kini Israel kehilangan koneksi dengan Sang Sumber Air Hidup karena kelakuannya sendiri. Mereka meninggalkan Sang Sumber Air itu dan membuat penampung air yang bocor dan tidak dapat menahan air. Penampung air yang bocor ini adalah lambang dari eksistensi Israel yang diarahkan kepada penyembahan sesuatu yang kosong dan tak berarti.
Sahabat Alkitab, marilah kita kembali meneguhkan fokus hidup kita. Jangan teralihkan pada hal-hal semu yang seolah-olah dapat memberi kelegaan. Hanya dalam Allah sajalah terletak pemenuhan eksistensi kita yang sejati. Ia adalah Sang Sumber Air yang memberi kehidupan sejati, maka putusnya relasi dengan Allah berarti berakhirnya kehidupan yang sejati. Marilah memelihara relasi dengan Allah Sang Sumber Kehidupan.
























