Perikop yang kita baca pada saat ini mengingatkan kembali percakapan antara Abraham dan Allah menjelang kehancuran Sodom dan Gomora (Kej. 18:16-33). Pada peristiwa tersebut juga terjadi dialog saat Tuhan memberitahukan rencanaNya untuk membinasakan kota yang “sangat berat dosanya” itu, kemudian Abraham merespon rencana Allah tersebut dengan mengajukan petisi agar orang benar tidak dibinasakan bersama-sama orang fasik. Terjadilah tawar menawar disitu dan barulah rencana Allah terwujud. Pada bacaan kita kali ini upaya untuk mencari orang benar di tengah bangsa Israel justru datangnya dari Allah. Tuhan memerintahkan agar jalan-jalan Yerusalem dilintasi untuk mencari orang-orang yang melakukan keadilan dan kebenaran. Jika ternyata masih ada, Ia akan mengampuni kota itu.
Lantas apa yang ditemukan di kota tersebut? Baik orang kecil, rakyat, maupun para pembesar semuanya jauh dari kebenaran serta keadilan yang telah ditetapkan Allah. Malahan situasi yang terjadi pada umat Allah di masa tersebut jauh lebih kompleks. Sudah berulang kali Tuhan menghajar dan memberi tahu apa yang benar, tetapi mereka masih bersumpah demi nama Allah dan tidak mau bertobat. Dalam dialog itu Yeremia seolah masih ingin membuka ruang lebih lanjut bagi pengampunan-Nya dengan berupaya menunjukkan bahwa pasti masih ada orang benar. Ternyata semua ingin lepas dari ikatan perjanjian dengan Tuhan. Mereka tidak mau lagi diatur oleh hukum-hukum-Nya bahkan berpaling kepada ilah-ilah yang sama sekali tidak berkuasa. Akibatnya didikan Allah akan tiba atas mereka berupa bangsa asing yang akan menjarah dan menduduki Yerusalem. Mereka akan terbuang seperti cara mereka tidak mengindahkan Allah.
Dalam perikop kita kali ini kejahatan dideskripsikan sebagai berpalingnya umat dari kebenaran dan keadilan. Ketika orang-orang tidak saling peduli dan memilih menindas serta memanfaatkan yang lemah. Mereka yang berkuasa yang seharusnya menggunakan kekuasaan tersebut untuk kesejahteraan banyak orang justru menggunakannya untuk memperkaya diri sendiri. Mungkin bayangan kita akan segera melayang pada kondisi yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Maka sebagai orang-orang Kristen yang terbaik yang dapat kita lakukan adalah tetap berjalan dalam kebenaran yang telah ditetapkan-Nya. Janganlah mengabaikan kebenaran dan keadilan dalam laku hidup sehari-hari karena disitulah terletak perkenanan Allah. Menaati Allah bukan hanya tentang berdoa dan pergi beribadah di gereja, tetapi juga tentang berlaku benar dan adil sejak dari dalam pikiran.
























