Seorang balita yang baru saja mahir berjalan itu tiba-tiba terjatuh karena tersandung batu. Seketika itu juga orang-orang di sekitarnya menyemangati sang balita agar segera bangkit dan berjalan kembali. Secara alamiah itulah yang seharusnya terjadi. Apabila seseorang tersandung dan jatuh, maka dengan segera ia bangkit dan membersihkan diri. Hal yang seharusnya juga terjadi saat kita jatuh dalam dosa. Segeralah bangkit dan bertobat. Namun mengapa ada saja orang-orang yang tidak mau bangkit serta memperbaharui dirinya.
Itulah yang menjadi ungkapan Allah kepada bangsa Yehuda. Mereka terus saja menjerumuskan diri pada hal-hal yang tidak dikehendaki Allah. Bagaikan seseorang yang terus melangkah menuju jurang, meskipun telah banyak yang memperingatinya. Burung-burung di udara tahu kapan harus bermigrasi mengikuti musim yang ditetapkan Allah, tetapi manusia yang diberi akal budi dan Firman justru mengabaikan kehendak-Nya.
Umat Tuhan pada masa itu rupanya terkecoh oleh penghiburan palsu yang disampaikan segelintir orang (ay.11). Mereka berkata bahwa semuanya baik-baik saja, padahal bukan demikian dengan kehendak Tuhan. Firman-Nya diputarbalikkan dalam kesesatan. Hingga pada akhirnya bangsa itu kehilangan sikap waspada dan rasa malu atas dosa.
Sahabat Alkitab, mungkin dalam satu titik di kehidupan kita, pernah ada masanya kita terjatuh dalam dosa yang begitu dalam. Jika itu yang terjadi dengarkanlah seruan Allah untuk kembali kepada-Nya. Jangan mengelak dan membenarkan diri karena itulah yang membuat kita terjatuh lebih dalam dan semakin sulit untuk bangkit. Dengarkanlah seruan-Nya dan kembali pada jalan yang Allah tetapkan. Segeralah basuh diri dalam cinta kasih-Nya yang meneguhkan serta menguatkan kita.























