YEREMIA 9:1-11
Pemulihan yang dikerjakan Allah tersedia bagi semua orang. Namun seringkali kitalah yang menolak dan merasa bahwa hidup kita baik-baik saja. Sementara orang-orang di sekitar kita begitu menyayangkan pilihan kita yang menolak untuk direngkuh dan dipulihkan oleh-Nya. Di saat itu kita terlambat untuk menyadari uluran kasih Allah yang menguatkan kita.
Pada bacaan kita kali ini ditunjukkan respons Yeremia yang begitu sedih melihat kejatuhan bangsanya. Yehuda bagaikan seseorang yang terluka parah, tetapi menolak untuk diobati. Kemerosotan moral dan spiritual diterka sebagai penyebab dari luka Yehuda. Penindasan terjadi dimana-mana, kebohongan adalah hal yang lumrah, dosa merajalela dan dimaklumi begitu saja. Jalan pemulihan Yehuda sesungguhnya tersedia setiap saat yakni pengampunan Allah. Namun mereka menolak untuk berseru kepada Allah dan kembali pada-Nya.
Bukankah kita seringkali juga seperti bangsa Yehuda. Kita merintih karena hidup kita yang luluh lantak mungkin karena retaknya relasi dalam keluarga, kecemasan karena kita tidak berada dalam jalan yang ditetapkan-Nya, dengan kata lain saat kedamaian sirna dari hati kita. Kita bertanya seperti orang Yehuda, “Apakah Tuhan tidak ada di sini?” Namun jangan-jangan, kita lah yang tidak mengizinkan-Nya untuk hadir dan berbuat lebih dalam kehidupan kita. Kita membiarkan diri terhanyut dalam dosa dan mengabaikan ketetapan-Nya. Maka segeralah kembali kepada jalan-Nya dan rasakan lah cinta kasih serta pertolongan-Nya.
























