Dunia di sekitar kita seringkali mengukur nilai seorang manusia dari seberapa cerdikkah kita, seberapa kuat posisi atau pengaruh seseorang, dan seberapa banyaknya uang kita. Tanpa sadar kita pun seringkali tergoda untuk mengaitkan eksistensi kita pada ketiga hal tersebut. Jika tidak ada ketiganya maka dunia seolah berakhir dan tidak dapat melaju lagi. Benarkah hal tersebut?
Dalam bacaan kita, Allah mengingatkan bangsa Yehuda bahwa kebijaksanaan, kekuatan, dan kekayaan adalah fondasi kehidupan yang begitu rapuh. Yehuda terjatuh dalam rasa aman semu yang diciptakan oleh ketiga hal tersebut, mereka merasa memiliki pemimpin yang bijak dan bangsawan yang kaya. Namun, ketika Allah menyatakan didikan-Nya dalam kekalahan serta dibuangnya Yehuda ke Babel, rupanya ketiga hal tersebut sama sekali tidak dapat menghindarkan Yehuda dari apa yang sudah ditetapkan-Nya.
Bangsa Yehuda begitu terpukau pada hal-hal lahiriah, termasuk ibadah-ibadah lahiriah tetapi tidak pernah betul-betul menghayati relasi yang penuh ketaatan dengan-Nya. Hati mereka tidak pernah benar-benar ditundukkan bagi Allah. Justru keselamatan itu datang saat hati terarah kepada ketetapan-Nya dan firman Allah menjadi pandu dalam kehidupan manusia. Malapetaka tidak terhindarkan dari Yehuda karena mereka telah betul-betul meninggalkan Allah.
Sahabat Alkitab, marilah kita mengembalikan rasa aman dan kepastian kita pada relasi dan ketaatan kita kepada-Nya. Seringkali kita begitu bersemangat mengejar apa yang menjadi sumber kepastian kita dalam kacamata duniawi. Padahal hal tersebut adalah sesuatu yang semu dan mengarahkan kita pada ketidakbermaknaan hidup. Maka hiduplah dalam relasi yang benar dengan-Nya karena Tuhan adalah satu-satunya sumber makna kehidupan kita.
























