Manusia adalah makhluk yang berakal budi sehingga ia pun memiliki kemampuan reflektif untuk meresapi pengalaman di sekelilingnya serta menangkap pesan Tuhan yang mungkin tersirat di baliknya. Apa yang Tuhan kehendaki agar aku lakukan dalam gejolak dinamika kehidupan yang tengah terjadi ini? Itulah pengalaman beriman yang hidup dan selalu terkait dengan kehidupan yang kita jalani.
Bangsa Yehuda ditantang untuk mempertanyakan laku hidupnya selama ini setelah kekeringan hebat melanda daerah mereka. Kekeringan itu begitu parah karena Yeremia menggambarkan dampak kekeringan tersebut yang menyentuh level kosmik. Seluruh ciptaan menderita serta terdampak karenanya. Dalam bencana yang mencekam itu sang nabi seolah-olah menjadi juru bicara dari bangsa Yehuda. Ia menunjukkan bangsa ini telah membawa kurban, berpuasa, dan menyebut nama Tuhan senantiasa.
Tidak hanya itu saja, bangsa ini juga sempat tersesat pada penghiburan palsu yang disediakan oleh para nabi palsu. Mereka mencari jalan keluar bukan pada Allah pencipta semesta melainkan pada berita-berita. Maka kemudian sang Nabi kembali mengingatkan umat akan sesuatu yang paling esensial yakni hidup dalam perkenanan Tuhan dan setia terhadap perjanjian-Nya.
Sahabat Alkitab, marilah melatih kepekaan kita untuk menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita dalam terang hikmat Tuhan. Mungkin saja Allah sedang menanti kita untuk kembali dalam rengkuhan-Nya serta mengundang kita menyatakan pertobatan di hadapan-Nya. Marilah hidup berlandaskan hikmat-Nya saja karena dari situlah datangnya penyertaan serta perlindungan Tuhan.
























