Ketika seseorang berada di posisi tinggi, ia dapat dikelilingi oleh orang-orang yang terus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Kritik mudah dianggap sebagai ancaman, sementara teguran dipandang sebagai serangan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar kemungkinan ia hidup dalam lingkaran yang hanya menggemakan apa yang ingin didengarnya. Padahal kekuasaan yang tidak disertai kerendahan hati, dapat menciptakan jarak dari suara-suara yang mengoreksi.
Situasi inilah yang membuat perkataan Yeremia dalam ayat 18 terdengar begitu tajam: “Duduklah di tempat yang hina, sebab mahkota kemuliaanmu sudah turun dari kepalamu!” Yang dimaksud adalah Raja Yoyakhin dan ibu surinya, Nehusta. Yoyakhin baru berusia sekitar delapan belas tahun ketika ia naik tahta dan hanya memerintah selama tiga bulan, sebelum Yerusalem dikepung Babel pada 597 SM.
Mahkota di kepala raja bukan sekadar perhiasan. Ia adalah simbol kekuasaan, kehormatan, dan kedudukan. Namun, Yeremia memperlihatkan ironi yang pahit: mahkota yang tampak begitu kokoh dapat jatuh. Bahkan wilayah yang jauh di selatan, Negeb, akan terkepung dan gerbang-gerbang kota akan tertutup. Kekuasaan ternyata tidak selalu mampu menyelamatkan mereka yang memilikinya.
Bukankah hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan kita? “Mahkota” tidak selalu berupa jabatan. Ia dapat berupa kekayaan, pengetahuan, pengalaman, reputasi, pengaruh, bahkan posisi dalam pelayanan. Semua itu dapat menjadi berkat, tetapi juga dapat membuat kita merasa terlalu tinggi untuk mendengar, menutup diri terhadap teguran, dan sulit mengakui kesalahan.
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan kesediaan untuk mengakui bahwa kita tidak selalu benar dan masih membutuhkan suara yang mengoreksi serta menuntun kita di jalan yang sesuai dengan kehendak-Nya.
























