Satu hal yang kita pahami melalui firman-Nya dalam Alkitab adalah kedaulatan Allah yang mengatasi semesta. Seluruh semesta tunduk kepada-Nya yang memerintah dalam keagungan. Hal ini berbeda dengan pemahaman bangsa-bangsa kuno di sekitar Israel yang mengaitkan dewa-dewa mereka secara eksklusif tanpa ada kaitannya dengan bangsa-bangsa lain. Maka dari itu wajar bila mereka berpikir bahwa tidak perlu bertanggung jawab kepada Allah Israel. Rupanya itulah kesalahan bangsa-bangsa tersebut.
Yeremia 25 menjadi titik penting yang menyatakan maksud Allah atas Yehuda. Setelah sebelumnya Ia menyatakan bahwa Yehuda akan mengalami 70 tahun penghukuman di tanah Babel, kini giliran Allah yang menyatakan rencana-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Babel tidak dibiarkan-Nya menjadi pusat sejarah, karena Babel hanyalah alat-Nya. Kini Ia juga hendak menyatakan keadilan-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Apa sebabnya? Rupanya sama seperti Yehuda bangsa-bangsa ini berpikir mereka bebas berbuat semaunya tanpa harus bertanggung jawab kepada Allah.
Tuhan menghendaki agar segala bangsa tunduk kepada-Nya. Pemberontakan kepada-Nya menghasilkan konsekuensi yang tidak mudah untuk dihadapi. Maka pilihannya adalah meletakkan seluruh hidup dan kepercayaan kita kepada Allah. Jalan hidup yang dilalui bersama Allah melahirkan rasa damai sejahtera yang melampaui segala akal.
























