Seringkali sulit bagi manusia untuk mengalahkan egonya sendiri. Sulit bagi kita untuk mengakui kesalahan yang kita lakukan. Apalagi bila kesalahan tersebut adalah hasil peringatan atau nasehat orang lain pada kita. Biasanya kita cenderung untuk “menyerang sang pembawa pesan” daripada “mendengarkan pesannya.” Padahal bisa saja Allah berkarya dan bekerja justru dari pesan-pesan yang tidak enak untuk didengar tersebut.
Setelah Yeremia menyampaikan pesan penghukuman Tuhan kepada Yehuda, segenap rakyat bangsa itu hendak membunuh Yeremia. Hanya saja Yeremia berhasil selamat. Nasib nahas justru menimpa Nabi Uria yang juga bernubuat demi nama Tuhan. Ia mengatakan hal yang sama seperti Yeremia. Hal tersebut menegaskan bahwa pesan yang disampaikan Uria dan Yeremia adalah kebenaran yang datangnya dari Tuhan. Harusnya sudah cukup bagi para pemimpin bangsa itu untuk percaya dan bertobat kembali kepada ketaatan yang benar kepada-Nya. Sayangnya respons yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka tetap mengeraskan hati dan bahkan membunuh Uria.
Betapa kesempatan telah dilewatkan oleh bangsa Yehuda. Allah memberi mereka kesempatan melalui pesan yang disampaikan nabi-Nya. Namun bangsa itu memilih untuk mengabaikan pesannya dan mencoba membunuh sang pembawa pesan. Berapa kesempatan pertobatan dan perubahan diri yang kita lewatkan, saat kita lebih memilih untuk menolak nasehat dan peringatan yang datang kepada kita. Jangan-jangan Allah memakai orang-orang di sekitar kita untuk menegur serta mengingatkan kita. Maka bukalah hati dan telinga kepada teguran-Nya serta hiduplah dalam jalan yang ditunjukkanNya.
























