Kedaulatan Tuhan mengatasi segala logika dan pertimbangan manusia. Sesuatu yang bagi kita terlihat begitu kacau dan tidak enak untuk diterima, bisa saja menjadi jalan pengajaran dan pemulihan martabat manusia. Kesimpulan itu hanya bisa terjadi saat kita betul-betul memaknai keberadaan kita dalam relasi dengan-Nya.
Inilah yang juga menjadi ajakan Tuhan bagi segenap bangsa di hadapan kuasa-Nya yang Maha Agung. Sekarang Yehuda akan diserahkan kepada Nebukadnezar (ay.6) Mengejutkan sekali bahwa pada ayat ini Allah menyatakan bahwa Nebukadnezar adalah hamba-Nya. Itu maksudnya Nebukadnezar sering dipakai oleh Allah untuk mendatangkan ajaran dan didikan bagi Yehuda. Raja Babel itu akan menaklukan berbagai negeri di genggamannya. Sementara Yehuda akan menjadi porak-poranda. Selama ini Allah telah berupaya untuk menasehati Yehuda dan mengajak mereka untuk bertobat, tetapi mereka lebih memilih mendengar nasehat nabi-nabi palsu yang berkata untuk tenang karena semua baik-baik saja.
Kenyataan berat yang akan menimpa Yehuda akan terasa begitu berat kepada para pemimpin bangsa. Allah berkata kepada Zedekia, “Taruhlah tengkukmu di bawah kuk raja Babel. Takluklah kepadanya dan kepada rakyatnya, maka kamu akan hidup.” (ay.12) Bahkan bait Allah yang menjadi sumber keamanan Yehuda turut terkena dampaknya. Perlengkapan rumah Tuhan akan dibawa ke Babel. Itu berarti bukannya Allah kalah kepada ilah-ilah Babel, melainkan kekalahan Yehuda dan kemenangan Babel telah menjadi bagian dari rencana besar Allah bagi umat-Nya.
Tunduk kepada keputusan serta kedaulatan-Nya memang seringkali tidak mudah. Apalagi bila sesuatu yang datang dan terwujud dalam hidup kita adalah hal yang begitu berat dan penuh dengan tantangan. Namun yakinlah bahwa Allah telah menguasai dan mengetahui segala-Nya. Tugas kita hanyalah mewujudkan ketaatan kepada-Nya. Tuhan sendiri yang akan menolong serta menguatkan kita.
























