Ungkapan-ungkapan populer sering mengatakan bahwa “badai pasti akan segera berlalu”. Sebuah metafora yang melukiskan kerinduan kita yang sangat manusiawi agar segala masalah segera berlalu dari kehidupan kita. Sama seperti bangsa Yehuda yang mengalami kekalahan dan dibuang ke Babel. Masa pembuangan yang berat itu adalah jalan terjal dan berliku yang hendak segera dilalui oleh bangsa tersebut. Namun berhati-hatilah agar kerinduan untuk segera lepas dari tragedi dan masalah itu justru membuat kita tidak awas dan jatuh dalam pencobaan, yakni memilih sesuatu yang sama sekali bukan kehendak-Nya.
Itulah yang terjadi dalam perjalan bangsa Yehuda. Mereka begitu mudahnya tergoda pada pihak-pihak yang menyatakan bahwa penderitaan ini akan segera selesai. Perikop kita saat ini mengisahkan Semaya yang merasa terganggu dengan apa yang disampaikan Yeremia dalam suratnya. Ia kemudian memposisikan dirinya seolah-olah memiliki otoritas ilahi. Tindakan manipulatif tersebut bertujuan untuk menghancurkan Yeremia yang dianggap melemahkan semangat orang-orang di pembuangan. Semaya menuduh Yeremia bersalah karena telah menubuatkan bahwa pembuangan di Babel akan berlangsung lama dan menyuruh umat “mendirikan rumah” serta “membuat kebun” . Mungkin dalam logika Semaya, jika ia betul datang dari Tuhan, maka seharusnya Yeremia menubuatkan kepulangan segera bangsa tersebut ke Yerusalem, sebagaimana yang telah disampaikan nabi-nabi lainnya yang ternyata adalah nabi palsu.
Pada akhirnya muslihat Semaya gagal. Hal ini membuktikan bahwa jika kita berada di jalan kebenaran Tuhan, maka Ia sendiri yang akan melindungi kita. Jika Semaya merancang hukuman duniawi agar ditimpakan kepada Yeremia, maka yang menimpa Semaya adalah hukuman yang datangnya langsung dari Tuhan.
Seringkali persoalan serta masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah cara Allah untuk mendidik serta mendewasakan kita. Maka saat persoalan terjadi janganlah terburu-buru terlarut pada keinginan untuk lepas dari itu semua. Melainkan jalanilah realita setapak demi setapak bersama Tuhan. Mungkin dari situlah datangnya hikmat serta pemahaman akan realitas yang terjadi. Semaya mungkin kesal karena Yeremia tidak menubuatkan kepulangan Yehuda, sehingga melakukan ragam tipu muslihat. Namun lihatlah ia melewatkan bagian yang terpenting dari peristiwa pembuangan itu yakni kedaulatan Allah bahkan dibalik setiap masalah dan pembelajaran bagi umat-Nya.
























