Pengenalan akan Tuhan menjadi sebuah kelanjutan dari ikatan relasi antara Allah dengan Manusia. Melalui Perjanjian Lama kita melihat bahwa Allah adalah tuhan yang hendak mengikat relasi dengan ciptaan-Nya. Manusia kerap kali melanggar perjanjian itu dan mendua dari Allah. Dosa membuat mereka memberontak dari Allah dan enggan untuk menaati perintah-Nya dan melihat hal tersebut sebagai beban.
Disinilah sebenarnya posisi Taurat menjadi penting. Menunjukkan batasan kepada umat manusia. Namun sayangnya Allah terus menyaksikan pelanggaran dari umat-Nya. Manusia kembali kepada pola pemberontakan yang lama sudah terjadi. Mungkin yang harus dilakukan adalah upaya radikal untuk mengubah paradigma untuk mengikuti-Nya. Mengenal Dia dengan penuh kesungguhan.
Disinilah Allah kemudian bicara mengenai batin dan hati yang terpatri hukum dan ketetapan Allah. Itu berarti terjadi internalisasi perintah-Nya. Dari sanalah kemudian datang pengenalan yang benar akan Tuhan. Mengenal bukan sekedar kenal, tetapi kenal mendalam. Kenal bukan sisi luar saja, melainkan jauh ke dalam kedalaman hati Tuhan. Dengan mengenal secara mendalam inilah, firman Tuhan sungguh akan hidup dan termeterai dalam diri umat-Nya. Inilah yang dimaksud nabi Yeremia ketika mengatakan Tuhan berfirman: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya pada hati mereka..”
Itulah yang seharusnya menjadi dasar dari spiritualitas kita. Spiritualitas kita didasarkan pada anugerah bukan hukum dan aturan, sehingga diperlukan pengenalan yang dalam akan Tuhan serta kehendak-Nya. Berdoa, beribadah, dan taatilah firman-Nya bukan karena kita takut tidak selamat melainkan karena kita menyadari bahwa dasar dari keberadaan kita adalah berdasarkan relasi yang dalam dengan Allah. Maka dengan sendirinya seluruh pikiran, kata, serta tingkah laku kita terjadi seturut kehendak-Nya.
























