Mesir dalam perjanjian lama bukan hanya sekedar negara atau kerajaan melainkan telah menjadi sebuah simbol dalam penghayatan iman-kebangsaan orang-orang Israel pada masa itu. Ia adalah simbol kuasa yang menindas Israel tetapi pada satu sisi kuasa Mesir yang tangguh serta kemakmuran yang membayanginya menjadi godaan bagi raja-raja Israel dan juga Yehuda untuk memandang Mesir sebagai kuasa yang dapat menolong serta memberi bantuan. Namun Tuhan memandang upaya tersebut sebagai kesia-siaan belaka karena kuasa dunia akan terus berganti. Hanya kuasa Tuhan yang menaungi semesta.
Itulah yang menjadi inti nubuatan Yeremia di Yeremia 46:1-28. Mesir yang agung itu akan runtuh. Di pertempuran Karkemis, pasukan Firaun Nekho lari kocar-kacir. Nabi Yeremia menggambarkan Mesir seperti sungai Nil yang meluap dengan sombongnya,tetapi tiba-tiba surut dan mengering. Dewa-dewa Mesir terbukti bisu, pertahanan mereka tidak berarti, dan Kerajaan Babel menjadi alat Tuhan untuk menghukum Mesir. Allah seolah-olah ingin menegaskan bahwa hanya diri-Nya lah yang menjadi sumber kekuatan serta pertolongan. Tidak bosan-bosannya Allah meyakinkan umat-Nya untuk tetap berada dalam tuntunan-Nya. Ia meneguhkan umat-Nya dan menenangkan mereka dengan berkata “jangan takut” (ay, 27-28). Jika umat berada di tangan penyertaan Allah maka tidak ada kuasa yang dapat menggoyahkan mereka.
Sahabat Alkitab, bukankah seringkali kita juga memiliki mentalitas seperti bangsa Israel. Kita tergiur pada hal-hal yang menurut kita menjadi sumber kestabilan ataupun modal untuk menghadapi tantangan serta pergumulan kehidupan. Mungkin hal tersebut mewujud pada kekuasaan, harta benda, atau hal-hal lain yang menurut kita menjadi pegangan hidup. Ingatlah bahwa hal-hal material tersebut hanyalah alat yang memang dapat dipakai Tuhan untuk menolong kita, tetapi tujuan hidup dan sumber pertolongan kita hanyalah Allah. Maka hiduplah dengan bersandar pada Tuhan Sang Penguasa semesta. Hanya di dalam Dia ada kasih serta pertolongan.
























