Kondisi dunia yang kita jalani sekarang ini terkadang sering menimbulkan keresahan tersendiri. Akankah kita dapat bertahan melalui beragam krisis yang mengguncang keberadaan kita. Perang, bencana alam, kerusakan lingkungan, ketidakstabilan ekonomi, dan situasi pemerintahan yang tidak menentu menjadi faktor yang mendukung keresahan itu lahir serta berdiam dalam benak kita. Akankah kita dapat bertahan melewati itu semua. Kemanakah kita harus bersandar saat badai kehidupan datang silih berganti?
Yeremia 47 kembali menunjukkan runtuhnya kekuasaan besar yang seolah-olah tidak pernah tergoyahkan, Kali ini yang diceritakan adalah nasib orang-orang Filistin. Mereka adalah bangsa pelaut yang tinggal di pesisir pantai di daerah Palestina barat. Sejauh kita membaca perjanjian lama maka kita akan mengingat keberadaan bangsa filistin yang selalu menjadi ancaman bagi israel. Bangsa ini telah lama menjadi momok bagi Israel. Namun bangsa yang menakutkan itu, dalam kuasa Allah, akan dihancurkan oleh Mesir. Tuhan akan menghukum bangsa ini tanpa terkecuali.
Menariknya di tengah segala penggambaran akan kekerasan dan keputusasaan yang menimpa Filistin, terdapat seruan minta tolong kepada Allah. Tercatat di ayat 6, “Ah, pedang TUHAN, berapa lama lagi baru engkau berhenti? Masuklah kembali ke dalam sarungmu, tenanglah dan beristirahatlah!” Apakah maksudnya seruan tersebut? Bisa jadi seruan tersebut adalah gambaran kesadaran seluruh umat manusia bahwa pada akhirnya jika Allah mengangkat pedang atas sebuah bangsa, maka hanya kehendak Tuhan saja yang dapat membuat-Nya “menyarungkan pedang-Nya”. Tuhan menggambarkan dirinya sebagai satu-satunya sumber kekuatan dan kekuasaan yang tidak tertandingi.
Sesungguhnya Filistin ditundukkan supaya orang beriman tahu bahwa Allah adalah sumber kebenaran sejati. Hambatan besar yang selalu membayangi Israel dikalahkan Allah dalam sekejap mata. Maka dalam segala ketidakpastian hidup dan berbagai peristiwa yang membuat kita berhenti untuk berharap, pandanglah Tuhan dalam segala kasih serta kehendak-Nya. Tuhan tercermin dalam setiap bentuk relasi yang menghadirkan kasih serta kedamaian. Tuhan memang memiliki berbagai cara untuk menyatakan keadilan dalam dunia, tetapi orang benar tetap berada dalam naungan-Nya. Marilah senantiasa berharap kepada Tuhan. Hanya melalui Dia kita dapatkan ketenangan sejati.
























