Pernahkah kita menyaksikan seseorang diperlakukan tidak adil, tetapi tidak mampu berbuat banyak untuk menolongnya? Barangkali kita merasa marah ketika melihat penderitaan korban diabaikan, sementara mereka yang bertanggung jawab seolah dapat melanjutkan hidup tanpa menanggung akibat perbuatannya. Dalam situasi seperti ini, mengharapkan keadilan bukanlah perkara sederhana. Ada rasa kecewa, ketidakberdayaan, dan pertanyaan tentang kapan keadaan akan berubah.
Pergumulan semacam ini tergambar dalam Ratapan 3:49-66. Air mata penyair terus bercucuran ketika ia menyaksikan kehancuran yang menimpa kotanya. Penderitaannya bukan hanya ungkapan kesedihan pribadi, melainkan juga kesaksian tentang kehidupan yang dirusak oleh kekerasan dan permusuhan. Ia sendiri dikejar tanpa alasan dan dilemparkan ke dalam lubang, seolah hidupnya tidak lagi berharga di mata orang lain. Namun, dari tempat yang gelap itu, ia berseru kepada Tuhan. Ia mengingat bahwa Tuhan mendengar suaranya, mendekat, dan membela perkaranya.
Pertolongan yang pernah dialaminya tidak serta-merta menghapus luka atau menghentikan tuntutannya akan keadilan. Penyair tetap memohon agar Tuhan melihat perlakuan yang diterimanya dan mengadili mereka yang menyakitinya. Bahkan, doanya mengandung permohonan pembalasan yang cukup keras. Kata-kata ini mungkin terasa mengusik, tetapi justru memperlihatkan betapa dalam kemarahan seseorang yang mengalami ketidakadilan. Ratapan menjadi ruang bagi luka, kemarahan, dan tuntutan akan keadilan yang diungkapkan di hadapan Allah.
Sahabat Alkitab, mengharapkan keadilan berarti menolak anggapan bahwa penderitaan boleh dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Namun, menyerahkan perkara kepada Tuhan bukanlah alasan untuk berpangku tangan. Kita tetap dapat mendengarkan mereka yang suaranya diabaikan, mendampingi mereka yang terluka, dan menyuarakan kebenaran ketika ketidakadilan terjadi. Sebab, keadilan bukan semata-mata harapan bahwa kesalahan kelak akan dihukum, melainkan juga kesediaan untuk tidak membiarkan sesama menghadapi penderitaannya sendirian.
























