Tidak semua orang menjalani kehidupan dengan keadaan yang selalu sama. Ada masa ketika kita merasa berhasil, dihargai, dan dibutuhkan. Namun, keadaan bisa berubah. Apa yang dahulu kita miliki mungkin hilang, pencapaian yang kita banggakan tidak lagi ada, atau orang-orang mulai memperlakukan kita secara berbeda. Tanpa disadari, kita bisa ikut memandang diri sendiri berdasarkan apa yang sedang kita alami. Lalu, ketika keadaan berubah, apakah nilai diri kita juga ikut berubah?
Pertanyaan ini mengingatkan kita pada Ratapan 4:1-9. Penyair membuka ratapannya dengan gambaran emas yang memudar dan batu-batu suci yang terbuang di setiap ujung jalan. Anak-anak Sion yang dahulu dianggap berharga seperti emas murni kini disamakan dengan belanga. Gambaran ini memperlihatkan perubahan nasib yang begitu drastis. Sesuatu yang dahulu dipandang mulia kini berada dalam keadaan yang mengenaskan.
Pengepungan dan kelaparan meruntuhkan kehidupan masyarakat. Anak-anak kehausan dan meminta makanan, tetapi tidak ada yang memberikan kepada mereka. Orang-orang yang dahulu menikmati kemewahan kini terlantar di jalan-jalan. Bahkan, tubuh mereka yang sebelumnya digambarkan bersih dan terawat berubah hingga sulit dikenali. Penderitaan itu berlangsung begitu berat sehingga penyair menggambarkan kematian akibat kelaparan sebagai pengalaman yang lebih menyakitkan daripada kematian oleh pedang (ay. 9).
Di tengah gambaran kehancuran tersebut, ada pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah sesuatu kehilangan nilainya ketika keadaan yang membuatnya tampak berharga tidak lagi ada? Emas yang kehilangan kilau tetaplah emas, tetapi penampilannya telah berubah. Demikian pula, seseorang yang kehilangan kedudukan atau mengalami kegagalan tidak serta-merta menjadi manusia yang kurang berharga. Namun, kita sering kali sulit memisahkan nilai seseorang dari apa yang dimiliki, dicapai, atau ditampilkannya. Akibatnya, perubahan keadaan dapat mengubah bukan hanya cara orang lain memperlakukan kita, tetapi juga cara kita memandang diri sendiri.
Sahabat Alkitab, Ratapan ini memang tidak membahas tentang harga diri seperti yang kita pahami saat ini. Namun, gambaran tentang kemuliaan yang runtuh dan kehidupan yang berubah mengajak kita merenungkan kembali cara kita memandang diri sendiri dan sesama. Ada kalanya, kegagalan atau kehilangan membuat kita merasa tidak lagi berarti, terlebih ketika orang lain mulai memperlakukan kita secara berbeda. Namun, keadaan yang berubah tidak harus menjadi ukuran untuk menentukan nilai diri kita. Jika saat ini kita sedang berada dalam masa yang sulit, kita tidak perlu mendefinisikan seluruh diri berdasarkan apa yang telah hilang. Sebaliknya, ketika berhadapan dengan orang lain yang sedang mengalami kemunduran, kiranya kita tidak ikut mengukur nilainya dari keadaan yang sedang mereka hadapi. Sebab, setiap orang layak diperlakukan dengan hormat, bukan hanya ketika berhasil dan berkecukupan, tetapi juga ketika rapuh dan membutuhkan dukungan.
























