Pernahkah terlintas dalam benak anda sebuah pertanyaan, “Jika Allah tidak dapat kita lihat, bagaimanakah kita dapat melihat dan mengenali kehendak Allah?” Mungkin dalam satu titik krisis kehidupan iman kita, pertanyaan itu pernah mencuat. Sementara untuk menjawabnya sendiri tidaklah mudah. Kita hanya dapat bersandar pada sebuah keyakinan iman bahwa jika Allah adalah pencipta semesta, maka Ia dapat memakai berbagai hal di semesta ini untuk menyapa serta menyatakan kehendak-Nya.
Salah satu cara yang digunakan Allah untuk berbicara kepada umat-Nya pada zaman perjanjian lama adalah melalui para nabi. Kali ini kita melihat bagaimana Yehezkiel diperintahkan Tuhan untuk melakukan serangkaian tindakan simbolik untuk menegaskan pesan yang mendalam kepada umat agar mereka mengingatnya. Tindakan simbolik itu diantaranya menyuruh membuat gambar Yerusalem pada sebuah batu-bata, lalu memeragakan pengepungan Yerusalem. Yehezkiel berbaring pada sisinya selama berhari-hari, menanggung secara simbolis kesalahan umatnya. Ia hanya makan roti campuran dan minum air dengan takaran yang sangat sedikit, menggambarkan kelaparan yang akan menimpa Yerusalem. Tubuhnya sendiri menjadi tanda bagi kaum Israel (ay. 3).
Rupanya Ia sedang memperagakan kejahatan-kejahatan yang dilakukan Israel sehingga penghukuman ditimpakan kepada bangsa tersebut. Allah mengundang umat untuk memperhatikan hal tersebut dengan seksama dan belajar dari apa yang telah mereka perbuat. Disinilah letak transformasi dari firman Tuhan. Pada satu titik mungkin terasa melegakan serta menyenangkan memperhatikan firman-Nya, tetapi di titik lain kita begitu tertampar serta merasa ditegur. Namun itu semua adalah bagian dari tindak pemeliharaan-Nya. Kita perlu membuka diri untuk melihat sabda Allah dalam segala sesuatu yang kita jumpai di semesta ini.
Maka yang menjadi panggilan bagi kita semua adalah membangun kerinduan untuk senantiasa mendengar dan memelihara firman-Nya. Kadangkala kita sering memilah-milah firman-Nya. Sabda yang mendatangkan kesukaan kita dengar, sementara teguran lewat sabda-Nya kita abaikan.
























