BANDUNG — Alunan musik country gospel membuai 140 mitra pendukung LAI yang hadir di Royal Dynasty Restaurant, Bandung, dalam Country Gospel Night 2026, sebuah malam penggalangan dukungan bagi masyarakat Rampi, Kabupaten Luwu Utara. Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WIB ini digelar Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan Bandung (KKPD Bandung) bersama Perwakilan Gereja-gereja dan Perkumpulan Kristen (PGPK Bandung) untuk mendukung Program Satu Dalam Kasih Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
Malam itu diisi dengan santap malam bersama, kebersamaan, serta dukungan yang diberikan melalui janji iman dan persembahan langsung. Suara merdu Herlin Pirena didukung The Comets Country Band mengalirkan semangat dan sukacita di dalam hati para hadirin. Namun, di balik musik dan suasana hangat tersebut, perhatian para tamu diarahkan kepada sebuah wilayah yang ribuan kilometer jauhnya dari Bandung dan mungkin belum pernah mereka dengar sebelumnya: Rampi.
Ketua Umum LAI, Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang, menggambarkan betapa beratnya medan perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju ke Rampi. Ia menyampaikan berdasarkan pengalaman menembus hutan di wilayah Seko, daerah yang bertetangga dengan Rampi.
“Pengalaman ini saya bagikan agar kita bisa mendapatkan gambaran nyata, bagaimana beratnya akses geografis menuju ke Rampi, terlebih saat musim hujan,” terangnya. Medan berbukit, jalanan tanah dan berbatu menjadi genangan air dan berlumpur licin saat hujan.
Dukungan yang dihimpun malam tersebut diarahkan untuk saudara-saudara yang tinggal di daerah terpencil. Menurutnya, LAI hadir untuk melayani kebutuhan gereja dan menghadirkan firman Tuhan bagi seluruh umat. Keberlangsungan pelayanan ini dimungkinkan melalui dukungan gereja dan umat sebagai mitra pelayanan LAI.
Ketua KKPD Bandung, Bp. Christy Agung Wijayadi, melihat perjumpaan malam itu sebagai bagian dari gerakan bersama. “Ketika kepedulian satu orang bertemu dan menyatu dengan kepedulian banyak orang yang lain, hal yang semula tampak kecil akan tumbuh menjadi daya ubah yang luar biasa besar,” ungkapnya. Melalui gerakan tersebut, KKPD Bandung menargetkan dukungan untuk menghadirkan 4.000 Alkitab bagi masyarakat Rampi.
Kerinduan itu kemudian terasa semakin nyata melalui kesaksian Ibu Indrawati, anggota KKPD Bandung yang telah puluhan tahun lamanya melayani bersama LAI. Di usianya yang 83 tahun, ia menceritakan kisah seorang ibu di daerah terpencil yang kehilangan empat anak karena sakit. Ketika ditanya bagaimana ia mampu bertahan, jawabannya menjadi bagian yang paling membekas: “Itulah sebabnya kami butuh Alkitab.” Bagi keluarga tersebut, yang dibutuhkan bukan harta atau kehidupan yang lebih mudah, melainkan Alkitab sebagai pegangan hidup.
Suasana kembali berubah ketika sambungan video call menghubungkan para tamu dengan Pdt. Rocky dari GKST Klasis Rampi. Koneksi yang tidak stabil membuat suara dari Rampi beberapa kali terputus. Suara menghilang, kemudian kembali terdengar. Ruangan pun sejenak senyap, seolah menunggu setiap kali sambungan tersendat. Dalam momen itu, jarak Bandung dan Rampi terasa begitu nyata.
Ketika koneksi kembali tersambung, Pdt. Rocky menyampaikan kerinduan masyarakat Rampi untuk memiliki Alkitab secara pribadi. Kondisi geografis yang terisolasi membuat kehadiran Alkitab fisik menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Malam semakin larut. Alunan pujian dan kebersamaan membawa hati para hadirin menyatu dan lebih dekat dengan Rampi. Semua yang pernah disentuh kuasa firman Allah, selalu ingin berbagi Kabar Baik kepada sesamanya. Dari Bandung, janji iman dan dukungan diteguhkan, agar firman Tuhan segera hadir di tangan mereka yang menantikannya. (per)
























