Di tengah hidup berkomunitas, seringkali segala hal yang berkaitan dengan keuangan menimbulkan masalah serius. Apalagi, ketika para pengelola keuangan komunitas tidak bersikap jujur dan terbuka mengenai keluar-masuk keuangan tersebut. Inilah mengapa ‘uang’ atau harta materi dapat menjadi tantangan yang, jika tidak dikelola dengan baik maka dapat menimbulkan kehancuran pada sebuah komunitas. Hal ini dapat terjadi di segala bentuk komunitas, entah itu dalam keluarga, organisasi, kantor, negara, termasuk gereja. Padahal, sebagai komunitas umat TUHAN kita memiliki banyak sekali pedoman firman yang akan menuntun kita untuk membangun system pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab dan iklim kondusif bagi efektivitas kehidupan komunitas.
Salah satu contoh mengenai perilaku yang baik dalam pengelolaan harta yang efektif dan baik bagi iklim pelayanan muncul dalam laporan mengenai pembuatan Kemah Suci. Pada ayat 21-31 ini, kita dapat melihat laporan besar mengenai seluruh persembahan yang dibawa oleh setiap orang Israel, sesuai kategori umurnya, sebagai modal pembangunan Kemah Suci. Terdapat laporan yang cukup jelas mengenai jumlah item yang terkumpul dan besarannya sesuai jenisnya masing-masing. Hal ini tentu merupakan sebuah contoh teladan yang baik untuk diterapkan, secara khusus dalam pengelolaan kebutuhan pelayanan di gereja.
Laporan pada kesebelas ayat ini tidak hanay sekadar formalitas atau pemaparan angka, melainkan juga memberikan kita sebuah wujud keterbukaan dan kejujuran para pengelola terhadap umat. Bahkan, apabila kita mengacu pada pasal 36:5-7, maka kita dapat menemukan bentuk kejujuran para pengelola dana/harta yang dibutuhkan dalam pembuatan Kemah Suci yakni pada saat mereka menghentikan umat membawa harta akibat kebutuhan yang sudah terpenuhi. Para pengelola tidak menggunakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan personal.
Pada hari ini, sebagai umat TUHAN kita diingatkan tentang pentingnya keterbukaan, kejujuran dan tanggung jawab dalam menjalankan kehidupan pelayanan dalam komunitas iman. Kita tidak boleh menampik maupun bersifat naif bahwa uang seringkali mejadi ‘batu sandungan’ bagi efektivitas proses pelayanan.