Resolusi konflik menjadi sebuah pendekatan yang cukup masif digunakan untuk menanggulangi berbagai konflik-konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia ini. Tujuannya adalah menciptakan perubahan situasi-kondisi hidup yang menyeluruh, tidak hanya pada salah satu pihak melainkan juga pada seluruh pihak yang terlibat, tidak hanya secara ekonomi maupun politik melainkan juga hingga ke dalam lingkup spiritualitas dan psikis. Tentu saja hal ini tidak menjadi sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Terdapat banyak langkah upaya yang dinamis yang perlu diwujudkan secara sabar dan tidak menggebu-gebu agar setiap proses dapat terlaksana secara efektif.
Nampaknya, Paulus juga melakukan pendekatan yang serupa terkait situasi jemaat di Korintus. Ternyata Paulus tidak menanggapi konflik yang terjadi di tengah jemaat hingga mengganggu perannya sebagai tokoh jemaat secara keras, melainkan ia lebih memilih mengajak jemaat untuk meresolusi konflik secara damai. Bahkan, Paulus tidak merekomendasikan agar para pelaku atau sumber konflik diusir dari tengah jemaat. Justru, Paulus meminta jemaat untuk memelihara hidupnya, khususnya secara spiritual sehingga ia tetap berada dalam komunitas yang membantunya untuk mengalami pertumbuhan. Inilah nilai penyelesaian konflik yang muncul dalam tulisan Paulus pada perikop ini, yakni penyelesaian konflik idealnya tidak ditujukan untuk memuaskan ego salah satu pihak melainkan untuk membawa perubahan dan pertumbuhan bagi setiap pihak yang terlibat di dalamnya.
Sahabat Alkitab, sebagai bagian dari negara yang majemuk seperti Indonesia, kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan berbagai peristiwa konflik yang terjadi selama puluhan tahun terakhir. Kita tidak akan membicarakan siapa yang salah dan benar pada saat ini, melainkan kita akan menggunakan firman TUHAN pada hari ini sebagai sarana untuk mengevaluasi kecerdasan pengelolaan konflik. Pada saat kita hidup bersama dengan orang lain maupun berada di dalam sebuah komunitas seperti keluarga, jemaat bahkan bermasyarakat majemuk seperti bangsa Indonesia, kita dituntut untuk memiliki kepekaan emosional dan kecerdasan pengelolaan konflik yang tidak gegabah. Kita perlu mengutamakan pertumbuhan bersama, dibanding kemenangan ego pribadi. Apabila hal ini dapat kita latih sejak sedini mungkin, maka situasi hidup berkomunitas pun akan menjadi semakin sehat dan efektif. Bukankah hal ini begitu dapat kita terapkan dalam hidup sehari-hari? Mulailah dari lingkungan keluarga, jemaat dan tempat kerja hingga kita dapat berdampak di tengah masyarakat.