Sebagai umat TUHAN tentu kita tidak lagi asing dengan pengajaran, “berpeganglah pada firman TUHAN, dengar dan lakukanlah itu dalam keseharian.” Kemudian, nampaknya setiap umat TUHAN juga sepakakat bahwa firman TUHAN yang paling mendasar dapat kita temukan melalui Alkitab merupakan kumpulan pengajaran yang tidak hanya untuk didengarkan tetapi juga perlu diwujudkan dalam hidup keseharian. Artinya, sebanyak apa pun kita mendengarkan firman TUHAN, entah melalui pembacaan Alkitab secara personal, melalui pesan khotbah maupun kelas-kelas pendalaman Alkitab yang kita ikuti hanya akan menjadi sia-sia jikalau kita tidak menindaklanjuti itu semua dalam cara pandang, perkataan, dan perilaku. Inilah salah satu bahaya yang sayangnya kerab luput dari perhatian umat TUHAN. Kita menyangka bahwa intensitas membaca atau mendengar firman TUHAN adalah cukup, padahal kita lupa bahwa itu semua perlu diupayakan dalam tindakan nyata. Bahkan, bahaya lain yang juga sangat mungkin muncul adalah ketika kita, sebagai manusia, memberikan ‘tambahan’ atas berbagai firman TUHAN. Alih-alih bertindah atas dasar firman TUHAN, ternyata kita justru bertindak atas keinginan demi mencapai tujuan pribadi. Jika sudah seperti ini, maka entah sadar maupun tidak sesungguhnya kita sedang memanipula firman TUHAN itu sendiri.
Wejangan yang muncul dalam perikop ini menjadi cara dari Musa mengingatkan bangsa Israel agar membangun budaya hidup yang berlandaskan firman TUHAN. Setiap perkataan TUHAN yang telah disampaikan melalui Musa dan kesepuluh firman yang diberikan pada saat mereka ‘berjumpa’ dengan TUHAN di gunung Sinai merupakan fondasi identitas sekaligus budaya hidup dari orang Israel sebagai umat TUHAN. Terlebih lagi, Musa mengingatkan mereka agar tidak sekadar menyimpan semua perkataan TUHAN tersebut, melainkan melakukan dan tidak mengurangi ataupun menambahkannya. Peringatan ini menjadi begitu esensial agar bangsa Israel mampu menjadi umat yang mengalami pembaharuan di dalam dan oleh TUHAN. Semua itu pun hanya dapat terwujud ketika mereka bersedia melakukan firman TUHAN dalam kesetiaan.
Selain itu, Musa juga mengajarkan bahwa kehidupan yang dijalankan dengan berlandaskan kebenaran firman TUHAN merupakan bentuk konkret kesaksian yang dapat dilakukan umat di tengah dunia.
.
Sahabat Alkitab, firman TUHAN yang kita renungkan pada hari ini telah mengajak kita untuk berani membangun kesetiaan dalam melakukan firman TUHAN. Itu semua bukan hanya akan mendatangkan dampak positif bagi diri kita sendiri, tetapi juga menjadi bentuk nyata kesakian yang dapat kita berikan di tengah dunia.