Paulus kembali memberikan pengajaran kepada jemaat di kota Roma bahwa hubungan iman yang mereka miliki bersama Allah merupakan dampak dari inisiatif gerakan kasih Allah. Hal ini untuk semakin mempertegas kepada mereka bahwa hubungan beriman bukanlah sesuatu yang sepantasnya diciptakan dalam formalistik maupun pemahaman yang terbatas pada hal-hal yang sifatnya lahiriah. Itulah mengapa Paulus menuliskan, “Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah” Oleh sebab itu, setiap jemaat pun perlu menyadari nilai ini sehingga dapat mengalami pertumbuhan iman yang sehat. Nilai dari hubungan iman sesungguhnya sejak awal didasari oleh kasih Allah yang penuh dengan kerinduan untuk merengkuh kita ke dalam hubungan yang penuh makna.
Sahabat Alkitab, akses untuk mengenal Allah merupakan anugerah. Hubungan iman yang kita miliki bersama-Nya juga berawal dari kehendak-Nya yang tertuju bagi kita. Dengan kata lain, semua tidak didasari oleh kemampuan, usaha, maupun rencana diri kita sendiri sehingga tidak selayaknya ada umat Allah yang menjalani imannya dengan kesombongan. Justru, kita seperlunya menjadi individu-individu yang penuh kerendahan hati, komitmen dan kesungguhan hati serta pikiran untuk merespons setiap anugerah Allah.
Selain itu, tulisan Paulus yang kita baca pada hari ini juga dapat menjadi pengingat bahwa di dalam setiap inisiatif Allah yang terwujud di dalam hubungan iman yang kita miliki ini pun terdapat misi yang jauh lebih besar daripada kepentingan diri sendiri. Maksudnya, terdapat rancangan besar untuk kemuliaan Allah yang semestinya mewujud dalam kehidupan kita sebagai umat Allah, entah secara personal maupun komunal. Hal ini juga lah yang membuat kesadaran diri dalam kerendahan hati atas akses pengenalan terhadap Allah menjadi semakin penting untuk dimiliki oleh setiap umat-Nya, yakni agar kita tidak melenceng dari rancangan kemuliaan Allah tersebut.