Menjadi seorang mediator memang bukanlah perkara yang mudah. Biasanya peran seorang mediator sangat dibutuhkan di tengah konflik antara dua atau lebih pihak yang saling beradu. Seorang mediator haruslah mampu bersikap netral dan benar-benar sanggup menjadi penghubung yang menyelaraskan kebutuhan dan keresahan dari masing-masing pihak tanpa menyudutkan atau menambah tekanan pada satu pihak tertentu. Hal ini sangat diperlukan agar seorang mediator sanggup menolong para pihak dalam situasi intens tersebut untuk membangun jalan keluar atas permasalahan yang ada.
Di dalam tulisan Paulus ini, ia menekankan kepada jemaat mengenai peran Kristus sebagai ‘pendamai’. Pada bagian sebelumnya Paulus telah menuliskan bahwa Kristus merupakan ruang pembentukan kehidupan, dan kini Paulus menambahkan bahwa Kristus pulalah yang menjadi ruang pendamaian TUHAN atas seluruh manusia dari segala keberdosaan dan kerusakan yang manusia lakukan. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh TUHAN dan terjadi di dalam Kristus, lokus utama terjadinya pembentukan, penciptaan dan pemeliharaan TUHAN atas seluruh kehidupan. Pendamaian di dalam Kristus itulah yang memberikan kita kesempatan untuk mengalami hidup yang diperdamaikan, hidup yang diubahkan oleh TUHAN yang berarti menjadi transformasi identitas hidup setiap umat yang menjalaninya.
Pendamaian yang terjadi di dalam Kristus idealnya juga dapat menjadi bagian nyata dari kehidupan setiap umat TUHAN yang mengimani hal tersebut. Artinya, kita perlu melakukan hidup yang diperdamaikan secara nyata dalam setiap laku keseharian. Hal ini dapat dimulai dengan sejauh mana kita mampu mengejawantahkan damai dalam relasi antara kita dengan orang lain? Atau jangan-jangan kita justru masih terlalu egois untuk membagikan damai itu dan lebih memilih untuk menghasilkan suasana perpecahan? Kiranya firman TUHAN ini dapat kita maknai secara nyata di sepanjang perjalanan waktu kehidupan.