Dalam perjanjian lama kehadiran Allah di tengah bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya diteguhkan melalui perjanjian yang diikat Allah dengan bapa leluhur Israel. Isi perjanjian itu adalah Allah menjadi Tuhan atas Israel dan bangsa itu menjadi umat-Nya untuk selama-lamanya asalkan bangsa Israel dengan teguh memegang perjanjian tersebut dengan menaati Allah dan kehendak-Nya. Sayangnya kitalah yang seringkali mangkir dari perjanjian tersebut. Sementara Allah selalu setia dengan janji-Nya. Merengkuh dan mengasihi umat-Nya di sepanjang zaman.
Bacaan kita kali ini merupakan upaya pemazmur untuk kembali mengingatkan umat beriman sepanjang masa akan janji dan kesetiaan Tuhan. Tabut perjanjian yang menjadi tanda kehadiran Allah telah dijaga sepenuh hati oleh Israel yang diwakili oleh pemimpinnya yakni Daud. Bahkan ayat 1-7 menggambarkan keresahan Daud yang belum dapat mendirikan “rumah yang layak bagi Tuhan”. Maka pada paruh perikop berikutnya, pemazmur menunjukkan janji Allah kepada Israel. Beginilah janji Allah, “...Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku ….” Sama seperti dahulu Allah mengikat janji kepada Bapa leluhur Israel, kini raja atau pemimpin atas Israel harus mewakili seluruh bangsa untuk melanjutkan perjanjian tersebut. Mereka yang berkenan bagi Allah adalah orang-orang yang menghidupi perjanjian-Nya dengan sungguh dan penyertaan Allah abadi atasnya.
Elemen dari sebuah perjanjian ditegakkan disini. Pada satu sisi ada janji Allah yang senantiasa hadir dalam kehidupan umat-Nya, tetapi pada sisi yang lain Allah menginginkan kesungguhan dan tanggung jawab dari manusia. Maka dari itu yang seharusnya menjadi perjuangan kita adalah menaati Tuhan senantiasa dan menghidupi perjanjian-Nya dengan sepenuh hati kita.
Namun perlu disadari bahwa kehendak untuk menaati Allah sebagai bagian dari menghormati perjanjian dengan-Nya seringkali terbentur dengan segala keterbatasan dan kedagingan kita. Maka dari itu perlu kesadaran penuh dari kita bahwa kehidupan pada akhirnya adalah sebuah kesempatan untuk melakukan kehendak-Nya dengan sepenuh hati. Di saat yang sama saat segala tantangan dan pergumulan menerpa, tetaplah yakin akan pertolongan Allah karena Ia adalah Tuhan yang setia dan tidak pernah meninggalkan kita.

























